Kodok Merah Tersisa dari Gunung Ciremai


Amir Hamidy adalah seorang peneliti taksonomi herpetology pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Beberapa waktu lalu temuannya ramai diperbincangkan karena berhasil menegaskan keberadaan spesies baru bernama Leptophyryne javanica. Spesies lokal yang semula disebut-sebut sebagai kodok merah (L.cruentata) di kawasan Gunung Gede-Pangrango.

Leptophryne javanica yang diabadikan tim survey Didi Saefulmahdi, Maret 2017, bersama Aldio Dwi Putra, Farist Alhadi dan Ahmad Nabil Faturahman

Buah ketekunan doktor lulusan Jepang itu kemudian dipopulerkan dalam artikel "Detection of Cryptic taxa in the genus Leptophryne (Fitzinger, 1843) (Amphibia; Bufonidae) and the description of a new species from Java, Indonesia". Tercantum dalam artikel jurnal ZOOTAXA nomor  4450 (4): 427-444, edisi 26 Juli 2018. Ditulis bersama Misbahul Munir (Universitas Negeri Semarang ), Mumpuni (Musium Zoologi),  Mila Rahmania (IPB) dan Aziz Abdul Kholik (Balai Taman Nasional Gunung Ciremai).

"Setelah kami teliti secara taksonomi, kodok yang ada di Ciremai dan Gede-Pangrango adalah spesies berbeda," ujar Amir, seperti dirilis tempo.co pada Kamis, 2 Agustus 2018.

Kodok merah mengingatkan saya pada catatan International Union for Conservation of Nature (IUCN), bahwa ia termasuk ke dalam status sangat terancam punah (critically endangered). Sesuai penjelasan Amir, kodok merah dalam status IUCN tersebut berada satu tingkat di bawah punah (extinct di the wild). Amir juga menjelaskan, status terancam punah itu disebabkan karena konversi hutan hujan yang menjadi habitat L. javanica, menjadi lahan pertanian.

Riset Amir bersama tim merupakan tindak lanjut temuan tak sengaja yang dilakukan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC). Saat itu pihak balai menggelar lomba foto flora dan fauna di kawasan Taman Nasional tahun 2012.

"Kodok berbintil kuning itu pertama kali ditemukan di Blok Ipukan, Gunung Ciremai," ujar Azis Abdul Kholik, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Taman Nasional Gunung Ciremai.

Atas temuan itu kemudian dilakukan kegiatan Survey Biodiversitas bersama PILI dan TNGC di Taman Nasional Gunung Ciremai kabupaten Kuningan dan kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada empat lokasi habitatnya, yaitu aliran Paderek (Curug Cilutung, Curug Cisurian dan Curug Batu Nganjut), aliran Kopi Bojong. Hasil monitoring PEH TNGC juga menemukan keberadaan kodok ini di lokasi baru pada aliran Ciinjuk, mata air Cadas Belang dan mata air Sigedong.

Penelitan mendalam dilakukan tahun 2017 lalu untuk mengenali suara, dan DNA-nya, termasuk mencari tahu perbedaan molekuler dan morfologi populasi kodok tersebut di Gunung Ciremai dengan yang ada di Gede dan Pangrango.

2017 lalu LIPI melakukan pengambilan sampel kodok merah yang berada di Aliran Padarek. Dari hasil pengujian labotarium terhadap genetik, suara dan morfologi, diketahui bahwa kodok merah yang di gunung Ciremai adalah spesies baru yang berbeda dengan kodok merah yang ada di gunung Halimun dan gunung Gede Pangrango. Spesies yang ada di gunung Ciremai sama dengan yang ada di gunung Slamet. Spesies baru tersebut di namakan “Leptophryne javanica sp.”

Penamaan diberikan berdasarkan kesamaan genus “Leptophryne”, sedangkan nama “javanica” ditemukan di Pulau Jawa yaitu Jawa Barat di gunung Ciremai dan Jawa Tengah di gunung Slamet.
Di Ciremai, kodok dengan ukuran 22-29 milimeter ini merupakan predator pemakan ulat dan serangga. Tubuh dan anggota badan cenderung ramping, ujung jari tangan dan kaki membulat. Selain itu tubuh kodok merah berbintik putih atau kuning. Kodok ini berperan penting dalam menjaga ekosistem di Gunung Ciremai, sebagai indikator jika kebersihan sungai dan air di Gunung Ciremai masih terjaga dengan baik.

Ditulis dan diolah kembali dari artikel tempo.co dan tngciremai.com

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.