Alun Sembalun Menyeka Air Mata


Sorot lampu senter tampak jelas membantu menampilkan gambar utuh wajah-wajah tegang, tergeletak pada hamparan tanah dengan selimut sedapatnya. Sesekali video siaran langsung berdurasi 3 menit lebih 14 detik itu memperdengarkan suara lenguhan perempuan dan anak-anak. Hawa dingin menyeruak, membayangi keengganan mereka beranjak dari tempat terbuka, sesaat setelah rumah-rumah mereka rebah oleh guncangan tanah sebesar 6,8 SR. Rekaman video kualitas gawai itu hanya sebagian kecil, itupun baru menandai wilayah Sembalun, lokasi dimana siaran langsung dibuat, sekira 3 jam setelah Gempa melanda provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Minggu (5/8/2018).

Seorang anak perempuan terlelap dengan berlatar belakang puing-puing rumah. FOTO: Bayu Gawtama, Sekolah Relawan

“19.46 (WITA) gempa lagi cukup besar di Lombok. Kirim relawan, kirim bantuan. Lombok gempa besar. Posisi saya dan relawan lain aman, ” tulis akun Bayu Gawtama, relawan yang tengah bertugas di Sembalun sejak gempa Lombok, Juli 2018 lalu.

Akun facebook founder Sekolah Relawan itu menjadi rujukan penting untuk mengetahui perkembangan terkini di lapangan. Bukan tak percaya jalur informasi lain, posisinya yang terkonfirmasi berada di posko relawan Lombok-lah yang menjadi sumber kredibel mengabarkan situasi.

***

Bayu Gawtama sesekali menyeka genangan basah di tampuk matanya. Benaknya berkecamuk, antara memenuhi kebutuhan korban dengan segera atau mendata. Keduanya sama penting untuk dilakukan segera. Seturut waktu, semakin banyak ia mendata, semakin basah pelupuk yang coba ditahannya. Gaw paham betul, korban butuh bantuan medis untuk merawat mereka yang luka, perlu ambulance untuk membawa yang meninggal, perlu air bersih untuk memandikan jenazah korban.
Catatannya pada Senin (6/8/2018) itu merilis 8 orang meninggal dunia di Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara. Ratusan orang terluka dengan kondisi patah tulang terbuka, kepala bocor dan lainnya. Kecamuk dalam benaknya kian menghenyak begitu tahu bahwa di Santong cuma ada satu dokter dan satu perawat, tak ada obat, bahkan tidak ada spalk untuk menahan tubuh yang menderita patah tulang. Tak ada pilihan, ia dan relawan lainnya harus menyaksikan warga tidur bersama korban meninggal.

***

Andirdin menggendong puterinya yang terluka di bagian kepala. Rani Ratna, usianya masih satu tahun, sejak tertimpa reruntuhan rumahnya ia tak berhenti menangis. Andirdin terlihat tegar, padahal ia begitu rapuh. Bagaimana tidak, Rani adalah anak keduanya. Sedangkan kakak Rani, Indah baru siang tadi dikuburkan. Bocah lima tahun itu tak selamat akibat gempa. Sedangkan isterinya, hanya bisa terbaring lemah. Bagian wajahnya terluka dan kakinya patah.

Kakak Rani, Indah, adalah satu dari 259 korban meninggal akibat gempa magnitudo yang mengguncang NTB dan Bali. 259 adalah jumlah resmi yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) melalui Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (9/8/2018).

Kelak, saat Rani tumbuh besar, kisah perjuangan sang ibu dan ayahnya yang berjuang menyelamatkan dirinya di tengah ujian yang menimpa masyarakat Lombok, akan dikenang sebagai cerita heroik penuh kasih sayang yang mendalam. Rani Ratna kelak akan memaknai ujian yang menempa ia dan keluarganya.

Sementara…Bayu Gawtama beserta tim Social Disaster Rescue (SDR) Sekolah Relawan tetap teguh meneruskan tugas evakuasi, mendata dan mencarikan bantuan di antara keterbatasan yang mendera. Tega tak tega, mereka tetaplah penyaksi kurang nyamannya kondisi tenda pengungsian, saat siang mereka harus merasakan panas yang luar biasa, sementara saat malam datang rasa dingin pun sulit untuk dilawan.

Kebanyakan mereka hanya menggunakan kain atau sarung sebagai pelindung. Ahh…seandainya pakaian hangat, tenda dan sleeping bag tersedia, tentu sembab mata korban dan relawan bisa sedikit ditahan. Tak terbayang mereka yang luka tidur beralaskan tikar saja.

Maka mengalirlah catatan kebutuhan pengungsi yang perlu tersedia segera seperti obat-obatan Antibiotik, Oksitosin,Lidocam, Infus Dewasa, Natrium Diktofenak,Catgut Chromic, Infus Anak,Sirup Antibotik  Anak, Sirup Analgesic Anak,Plester,Kasa Steril, Susu Bayi,Nasal Canule,Urin Bag,RL, NaCL,Okycan,Cateter 20 22 18 24, Paracetamol, Ibuprofen, Spalk, Sarung Tangan Steril, Ciprofloxasin tab dan Dexametason. Hingga kebutuhan pakaian hangat, sleeping bag, tenda, susu bayi, makanan dan vitamin.

***

Rukka Sombolinggi adalah Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Sejak gempa menimpa Lombok pada Juli lalu, pikirannya langsung tertambat soal bagaimana kondisi komunitas adat di sana. Termasuk 23 komunitas Masyarakat Adat Anggota AMAN. Bergegas ia menyiapkan perangkat organisasinya untuk bergerak menangani korban gempa di Lombok. Unit Kerja Tanggap Darurat AMAN dipimpin oleh Annas Radyn Syarif. Tiga posko didirikan dengan basis Pengurus Wilayah (PW) AMAN dan Pengurus Daerah (PD) AMAN. Posko pertama di Kota Mataram, tepatnya Gelanggang Pemuda NTB, posko kedua di Desa Montong Baan Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur, poski ketiga di Desa Gonong Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara.

Mekanisme ditetapkan dengan dukungan relawan di lapangan yang terus bergerak. Sementara penggalangan donasi publik secara rutin mereka laporkan lewat web.

Kegundahan Rukka seperti mewakili perasaan benak Kamardi, Lalu Prima, Abdul Majid, Syahnil dan Dodik Sutikno. Merekalah yang berada dilokasi,  bergerak sebagai warga, relawan sekaligus korban. Laporan demi laporan yang masuk terus menambah debar Sekjen yang berasal dari Toraja itu.
Sahnil yang berada di posko II Desa Montong mencoba bergeser ke arah Sembalun pada Senin (6/8/2018) siang, namun tidak bisa dilanjutkan karena jalan menuju Sembalun tertimbun longsor. Jika menggunakan jalan memutar butuh waktu 4 jam baru tiba ke Sembalun dari Montong.

Malam kedua (6/8/2018) setelah gempa, Kamardi yang merupakan pengurus PW AMAN NTB itu bergerak menyisir Desa Tanjung di Lombok Utara. Rumahnya sebagian telah rebah, gulita karena listrik padam, air minim, makanan terbatas dan gempa susulan terus menggoyang. Tak ada yang tenang.

Sementara Dodik Sutikno melaporkan data pengungsi sebanyak 44 kepala keluarga, 161 jiwa, 24 anak-anak, 17 balita, 2 difabel dan 9 orang jompo di Dusun Karang Nangka, Batu Ampar dan Majalangu, Pengembuk yang berada di Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Catatan tambahan menambah miris, mereka sangat membutuhkan genset, terpal serta kebutuhan bayi dan anak.

***

AMAN dan Sekolah Relawan adalah dua dari kelompok relawan lainnya yang bergerak sejak awal gempa terjadi di Lombok pada Minggu lalu. Posko mereka bisa dikatakan seadanya karena minimnya akses kebutuhan medis dan kebutuhan pengungsi lainnya.

Mereka tak henti-henti memohon doa dan dukungan agar tetap diberikan kekuatan dan kemampuan untuk tetap mendampingi masyarakat dan melakukan kontribusi terbaik dalam proses pemantauan dan penanganan gempa di Lombok. Mereka terus mengabarkan hal terbaru terkait kebutuhan yang diperlukan segera. Mengajak menyatukan energi dan hidupkan harmoni untuk Sinergy In Humanity.
Paling tidak yang mereka lakukan adalan panggilan kemanusiaan untuk melengkapi apa yang sudah dilakukan pemerintah setempat. Indonesia bukanlah semata jajaran pulau besar, ada pulau kecil tersebar yang perlu sentuhan.

Mari mendoa dan sumbang bantuan, agar Lombok tak merasa sendirian.

#Lombokbutuhkita

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.