Berhitung di Kawasan Lindung



Subuh baru saja menyapa, Muhammad Arifin (44) yang tengah berada di kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Cisarua, Bogor, bersiap menyambut fajar dengan sederet agenda.  Sejenak ia tengadahkan tatapannya ke langit luar, hujan deras belum menampakkan tanda-tanda mereda. Arifin tak dapat menyembunyikan rasa gundah, sepertinya agenda bertemu kelompok tani kampung Pensiunan di Tugu Selatan harus batal. Ia pun memilih sibuk memberi kabar, hujan di Puncak sejak Minggu (4/2/2018) malam belum reda, Arifin meminta kawan-kawannya untuk waspada.

                                 Longsor tampak merekah di areal perkebunan teh, Cibulao, Tugu Utara, Bogor. Foto : Hendi/Cibulao

Benar saja, sesaat setelahnya, ada 3 titik longsor di jalan masuk menuju kampung Cibulao, 300 m dari pos masuk Melrimba Garden, disertai luapan air telaga warna sampai ke pinggir jalan. Sejurus kemudian tersiar kabar 4 titik longsor lainnya di kawasan Gunung Mas, Widuri, Riung Gunung, dan Grand Hill. Forum Ecovillage kecamatan Cisarua secara khusus juga merilis total ada 25 titik bencana longsor dan banjir di Cisarua hingga pukul 11.05 WIB.

Longsor yang kemudian diketahui mengakibatkan satu keluarga penjaga warung, yang terletak 100 meter dari Masjid Atta’awun, menjadi korban. Para korban antara lain Lilis, yang ditemukan telah meninggal, 4 lainnya patah tulang betis dan luka ringan.

Sementara di Katulampa, Andi Sudirman (51) adalah sosok sibuk yang tak henti-hentinya memantau debit dan mengabarkan status siaga. Senin (5/2/2018) pukul 08.30 WIB, tinggi muka air Bendung Katulampa berada pada 220 cm dengan debit air 514,656. Data penting untuk menyatakan Ciliwung berada pada status SIAGA 1. Status yang lebih dari cukup untuk menyatakan waspada banjir Ciliwung wilayah Bogor-Depok-Jakarta.

Mulai pukul 09.00 WIB, sejumlah titik di Bogor mulai terendam luapan sungai Ciliwung. Kampung Katulampa RT 03 RW 09 di Sindangrasa, Kampung Pangkalan Jambu Dua RT 02 RW 05 di Bantarjati, serta Kampung Bebek RT 02 RW 10 di Kedung Halang, adalah 3 titik paling parah, dengan ketinggian air mulai dari mata kaki hingga pinggang orang dewasa.

8 jam kemudian, permukiman di bantaran Ciliwung Jakarta mulai tergenang luapan banjir, mulai dari Kelurahan Pejaten Timur Kecamatan Pasar Minggu Jakarta Selatan hingga Kelurahan Cawang Kecamatan Kramat Jati Jakarta Timur. Berdasarkan data sementara yang dihimpun BPBD DKI Jakarta, terdapat 1.178 rumah tergenang banjir setinggi 10-60 centimeter. Sebanyak 7.228 KK atau 11.450 jiwa terdampak langsung luapan Sungai Ciliwung.

Ahh…longsor-banjir memang selalu ramai saat kejadian. Banyak yang unjuk prihatin begitu ada korban didalamnya. Tengok mundur pada Oktober 2017 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor sudah mengeluarkan surat edaran terkait peringatan dini pergerakan tanah dan banjir bandang di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Peringatan dini menindaklanjuti masuknya 22 kecamatan di kabupaten Bogor dalam daftar Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana yang berstatus waspada pergerakan tanah dan banjir bandang Oktober lalu, salah satunya Cisarua dengan kawasan Puncak-nya.

Agaknya klaim Kawasan Puncak sebagai kawasan lindung sedang diuji. Deforestasi, pelanggaran tata ruang dan perizinan di Kawasan Puncak, telah mengubah Puncak dari yang seharusnya kawasan lindung menjadi rawan bencana.

Mari kita tengok bagaimana Forest Wacth Indonesia (FWI) mencatat hilangnya 5,7 hektar hutan alam di kawasan Puncak kurun waktu 2000-2016. Anggi Putra Prayoga, juru Kampanye FWI membeberkan bagaimana Puncak hanya mengandalkan sisa 21 persen hutan alam dari total wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Padahal peranan Kawasan Puncak sangat vital untuk banyak daerah dibawahnya.

Jika mau berhitung, daerah Puncak merupakan hulu dari empat DAS besar, yaitu Ciliwung, Cisadane, Kali Bekasi dan Citarum. Lebih khusus lagi, Kawasan Puncak menjadi penyedia air utama untuk 3 DAS, yaitu Ciliwung, Kali Bekasi, dan Citarum. Bisa dibayangkan apa jadinya jika kawasan ini rusak, dipastikan daerah dibawahnya akan ikut terpapar dampak.

Selanjutnya mari menelisik lebih rinci Rencana Tata Ruang Rencana Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor periode 2016-2036 yang telah direvisi dengan menyisakan kawasan hutan sebesar 29,47%. Pusat Pengkajian Perencanaan Pengembangan Wilayah Institut Pertanian Bogor (P4W - IPB) menghitung luasan kawasan hutan yang menyusust menjadi 1047.53 hektar. Revisi dari sebelumnya 2100,13 hektar atau 58,78%.

Sementara itu 445 hektar Kawasan Lindung telah berubah fungsi untuk Hutan Produksi, Pertanian dan Permukimam. Kenyataan lainnya, RTRW ini juga merevisi perubahan peruntukan Kawasan Lindung untuk Perkebunan seluas 704 hektar.

Selasa (6/2/2018) pagi, Ernan Rustiadi, Kepala P4W LPPM IPB yang juga koordinator Konsorsium Penyelamatan Kawasan Puncak terlihat tidak begitu santai sebagaimana biasanya. Pagi itu ia mengumpulkan rekan-rekannya sesama anggota konsorsium untuk berkumpul disudut kantornya di kampus IPB Baranangsiang, guna menyikapi bencana longsor yang tak main-main Senin kemarin.
Indikasi faktual terlampauinya daya dukung puncak adalah kejadian bencana longsor, banjir pada masa-masa bulan cuaca ekstrim. Jika BMKG mencatat hujan yang berlangsung selama 4 Februari 2018 tercatat 152 milimeter per hari dan termasuk curah hujan ekstrim yang menyebabkan longsor dan naiknya debit sungai Ciliwung. Ernan bersama P4W-IPB pada 2012 lalu telah memiliki pengamatan sendiri. Selama 22 tahun, tidak ada perbedaan curah hujah yang signifikan di Kawasan Puncak. Estimasi perbedaan curah hujan sebesar 0,17 dari rata-rata curah hujan 3.160 mm/tahun. Pada rentang waktu tersebut, Kawasan Puncak mengalami 17 kali cuaca esktrim.

Jelas, peristiwa banjir dan tanah longsor yang terjadi menunjukan kerusakan Daerah Aliran Sungai. Semata-mata diakibatkan daya dukung di Kawasan Puncak yang semakin menurun, sehingga rentan bila menghadapi cuaca ekstrim.

Hutan tersisa di Kawasan Puncak saat ini tidak cukup. Siapapun perencana dan pengelolanya harus serius dan mengkaji ulang peruntukan dan kesesuaian lahan untuk meningkatkan daya dukung lingkungan di Kawasan Puncak. Jika tidak, bencana serupa akan terus berulang dan menjadi semakin parah.

Mari berhitung, bergerak bersama menyelamatkan kawasan puncak. Sigap dan tanggap bencana patut dipupuk dan diperkuat, namun jangan terlupa persoalan sesungguhnya. Puncak bukan soal Bogor – Jakarta saja, didalamnya ada wibawa negara yang dipertaruhkan.

Selamatkan Puncak !

"Berhitung di Kawasan Lindung" publikasi pertama oleh seluang.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.