Balada Penyanyi Tua Itu-pun Berakhir


Rasanya belum reda kekecewaan dan kehilangan panduan musik tanah air yang bisa dipegang dan layak dijadikan patron seperti Rolling Stone Indonesia. Suatu pagi pada Kamis (4 Januari 2018) silam, publik musik harus kembali menerima kenyataan mangkatnya legenda musik Indonesia yang tersisa. Koesyono Koeswoyo, atau lebih dikenal dengan panggilan Yon Koeswoyo telah berhenti berkarya untuk selamanya. Sosok yang kiprahnya melegenda bersama Koes Bersaudara sejak 1962 dan Koes Plus pada 1969.

Yon Koeswoyo dalam penampilan terakhirnya pada program Golden Memories Vol.2 di Stasiun TV Indosiar. Foto : Istimewa

Semula guliran penggalan kabar tersebut banyak bermuntahan dibanyak grup whatsapp. Untuk beberapa saat memilih saya diamkan karena tidak menyertakan validasi data dan tidak ada yang mengkonfirmasi kebenarannya. Teks dengan karakter yang sama memang memancing untuk curiga, copy paste layaknya berita amatiran kalau tak mau disebut hoax.

Sejurus kemudian barulah ramai orang mengirim link berita soal itu yang meminjam konfirmasi salah satu media kepada Bens Leo, pengamat musik yang ada dilokasi rumah duka. Saya sendiri memilih menelusuri akun media sosial beberapa tokoh musik yang selama ini dekat dengan musisi 77 tahun itu, demi meyakinkan diri.

Mengenal seorang Yon Koeswoyo adalah adalah keberkahan sendiri untuk saya. Perkenalan kami bukan dalam arti kedekatan karya semata, saya pernah berjumpa, berjabat tangan hingga berbincang dalam bahasa jawa di Solo, Jawa Tengah sekira tahun 2006. Saat itu saya kedapatan harus berbagi panggung dengan Koes Plus versi baru di sebuah tempat di Solo, tepatnya dalam acara gathering sebuah BUMN, kantor saya kala itu. Selepas bermain drum bersama band kantor, seturun dari panggung Yon Koeswoyo menyalami dan menyapa dengan ramah. Perbincangan singkatpun berlanjut dalam bahasa jawa. Saya pun ingat betul salah satu pesannya untuk terus berlatih dan bermain musik sampai tuwek (tua, red).

Selebihnya hanya kedekatan seorang penggemar kepada idolanya, umumnya dalam berbagai acara panggung musik yang secara tak sengaja saya singgahi.

Yon Koeswoyo yang bernama asli Koesjono dilahirkan tanggal 27 September 1940, telah memutuskan bernyanyi secara serius sejak 1958 bersama saudaranya, Yok Koeswoyo. Kolaborasi keduanya memang menjadi nyawa lantunan lirik Koes Plus yang terus dinyanyikan orang hingga kini. Bahkan masa kecil saya yang masa itu adalah eranya Nirvana dan Green Day, begitu menyaksikan panggung 17an, lagu “Kolam Susu”, “Diana”, “Bis Sekolah”, “Dara Manisku” atau “Bujangan” pasti menyeruak.

”Pemusik kan nggak ada pensiunnya.Jadi saya tetap melakoni musik sampai kapan pun” tukas Yon Koeswoyo dalam salah satu artikel almarhum Denny Sakrie tahun 2011.

Barangkali semangat semacam ini yang membawa Yon Koewoyo tetap bersenandung hingga usianya dinyatakan cukup oleh yang Maha Esa. Bersama Koes Plus yang didukung 3 pemusik muda Danang (gitar,keyboard) ,Sonny (bass) dan Seno (drums) , ternyata Yon sering tetap manggung dengan enerjik.


Tekad yang sama dengan yang pernah dia ujarkan selepas Tonny Koeswoyo menghembuskan nafas terakhir tanggal 27 Maret.”Kami memang tetap mempertahankan Koes Plus tanpa ada lagi almarhum Tonny Koeswoyo” ungkap Yon Koeswoyo. Tekad yang memang terbukti, Koes Plus masih berkibar walau hampir tak pernah menghasilkan album lagi.

Yon memang masih menampakan wajah dan semangat yang sama dengan yang saya temui tahun 2006 silam. Bernyanyi membuatnya senantiasa segar, setidaknya itu yang saya saksikan ketika Yon menyanyikan “Ya Allah” , lagu dari album Qasidahan bersama Koes Plus Vol.1 [remaco, 1974]. Yon tampak bernyanyi dengan iringan gitar Dewa Budjana. Trims bung Adib Hidayat  [eks RSI] yang berkenan mengunggah tampilan pertengahan tahun 2017 itu.

Selanjutnya, saya memilih sepakat dengan almarhum Denny Sakrie yang menyitir penggalan “Penyanyi Tua” sebagai penggambaran kiprah Yon bersama Koes Plus-nya. Balada penyani tua itu-pun harus berakhir.

Selamat jalan om Yon

Oh penyanyi tua lagumu sederhana
Lagu dari hatinya terdengar dimana mana
Oh penyanyi tua lagumu sederhana
Mutunya pun tak ada dan anehnya banyak penggemarnya

"Bennington dan Pertanda 11 Juli" publikasi pertama oleh hujanmusik.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.