Dear Rolling Stone Indonesia, Apa yang Kamu Lakukan Itu Jahat..


Kelu ini sejatinya masih hinggap kuat menancap. Beberapa kali mencoba mencari pengalih perhatian tak berhasil. Termasuk memilih untuk ‘mogok’ menulis telah dilakoni. Ya sudahlah, tampaknya ia telah gagal mengelabui kenyataan hengkangnya kitab musik popular tanah air terakhir. Saya katakan hengkang, bukan mati, karena senyatanya ia tak lebih dari merek dagang jurnalisme musik yang sukses di Amerika dan dunia. Di Indonesia, atas kebaikan pihak-pihak pemegang lisesnsi lah yang memungkinkan ia eksis dan bertahan selama 12 tahun.

“Pada hari ini PT a&e Media sebagai penerbit majalah Rolling Stone Indonesia dan situs Rolling Stone Indonesia mengumumkan bahwa mulai 1 Januari 2018 kami tidak memegang lisensi majalah Rolling Stone Indonesia dan situs Rolling Stone Indonesia untuk beroperasi di wilayah Indonesia.”

Kalimat pembuka pengumuman pada situs web Rolling Stone adalah satu-satunya hal tak asyik yang saya temui selama mengenalnya. Bagi saya itu adalah kalimat sadis kalau tak mau dikata jahat. Sebagai salah satu pembeli majalah terbitan pertamanya tahun 2005, saya pantas kecewa dengan cara pupus seperti ini. Masih membayang usaha mendapatkan majalah ini dengan gaji pertama sebagai pegawai kantor Pegadaian (sekarang PT). Terlambat tiba karena tak langsung kerja, memilih menyisir Gramedia demi memastikan menjadi salah satu pemilik majalah dengan cover Bob Marley itu. Edisi pertama yang juga memperkaya pemahaman saya terhadap Linkin Park, Metallica, dan Slank.

Sebagaimana sangkaan kabar berita yang beredar. PT a&e Media selaku pemegang lisensi di Indonesia memutuskan untuk tidak memperpanjang lisensi Rolling Stone yang berasal dari New York, Amerika Serikat.

“Segala kepemilikan merek di bawah Rolling Stone Indonesia atau yang terhubung dengan Rolling Stone Indonesia telah dikembalikan kepada pemilik merek Rolling Stone di New York, Amerika Serikat, dan Rolling Stone International.”

Ahh…saya tak kuasa menahan kecewa. Di Indonesia, tanpa mengurangi rasa hormat pada pelaku media era 2000an lainnya. Barangkali salah satu kegiatan dokumentasi musik tanah air akan terlewat jika PT a&e Media sebagai pemegang lisensi Rolling Stone Indonesia tidak hadir, berikut orang-orang didalamnya yang menggerakannya, hingga dipercaya dan diterima publik musik. Paling tidak sebelum berhenti operasi per 1 Januari 2018 lalu.

Saya teringat obrolan liar dengan gitaris The Kuda Andi ‘Idam’ Fauzi tahun 2009, gitaris yang pada masanya bermain untuk Reidvoltus. Menyoal kekaguman kami pada band indie yang kiprah dan rilisannya diulas RSI. Seperti menegaskan belum sah label ke-musisi-an kalau belum pernah masuk Majalah Rolling Stone Indonesia

Mungkin reaksi saya masuk kategori berlebihan. Bisa menjadi bahan tertawaan mereka yang lebih paham dunia musik tanpa Majalah Rolling Stone. Biarlah…namanya juga penulis musik gadungan yang masih awam perihal jejak panjang musik dunia dan karya nusantara lainnya.

Jelasnya saya menjadi lebih paham sejak aktif membaca versi cetaknya maupun online. Baik dan buruk, Rolling Stone tak bisa dilepaskan dari tatanan jurnalisme musik. Majalah musik yang di negara asalnya terbit pertama pada 1967 ini menjadi panduan standar baru dalam dunia jurnalisme musik. Rolling Stone membuat jurnalisme musik jadi lebih profesional. Hal yang menggelorakan semangat saya untuk menulis musik sekelas mereka, hingga kemudian lahirlah blog Hujanmusik! ini.

Standar liputan yang memperlakukan musik lebih dari sekedar hiburan atau bisnis. Disana ada soal pengetahuan, proses bermusik hingga kisah hidup dan aneka perilaku musisinya. Merujuk pada catatan yang dirilis tirto.id, mereka meletakkan musisi sebagai manusia yang punya banyak kisah menarik untuk diulik. Begitu pula wawancaranya yang padat berisi. Ya…saya sepakat dengan itu.

Kemunculannya terus membuat kesan baik dalam proses penulisan yang saya geluti. Sesaat setelah memiliki edisi November 2017 dengan bonus album Blacklight Shines On-nya Koil, terlintas usaha untuk gabung dengan tim didalamnya. Usaha gagal yang saya syukuri, cukup puas menjadi penikmat tanpa perlu terlibat dengan dinamikan kejar tayang majalah musik terbesar Indonesia. Menjadi penyaksi standar baru dalam penulisan musik di Indonesia. Lebih panjang dan mendalam dari yang sudah ada, diitambah tulisan-tulisan eksklusif dari Amerika.

Baiklah, saya akui 3 kalimat terakhir diatas adalah upaya sembunyi dari kegagalan memiliki pengalaman sebagaimana diceritakan Wendi Putranto tahun 2010 silam..hahahahaha.

Saya juga bukan siapa-siapa dibandingkan kontributor muda mereka yang luar biasa. Selebihnya hanya mencoba membangun idealisme menulis bersama kolega semacam Rizza Hujan, Husni Mubabrok, Graditio dan Rinjani Reza. Kumpulan penulis amatir, berangkat dari blog yang mengunggah reportase/review sendiri. Meramaikan ranah blog musik, webzine atau media musik independen lain yang sudah ada. Semoga kami tidak didoakan cepat mati.

Kembali pada Rolling Stone Indonesia, kurun waktu 12 tahun bukan waktu yang pendek untuk sebuah majalah dengan ongokos produksi yang relatif tinggi. Meski harga jualnya mahal, ia tetap menemukan pembacanya tersendiri. Pembaca militan biasanya akan melakukan apa saja untuk bisa mendapatkannya. Termasuk patungan dan dibaca bergantian, atau memburu versi bekasnya yang dijual lebih murah.

“Terima kasih tak terhingga dari keluarga Rolling Stone Indonesia kepada para pembaca, klien, relasi, pemusik, band, label, kontributor, dan seluruh pihak yang telah membantu kami dalam perjalanan 12 tahun ini.”

Begitulah kenyataan masa-masa digital punya kuasa. Sekuat-kuatnya majalah menerjang gelombang, akan ada masanya juga untuk pergi dan memilih selesai.

Dear Rolling Stone Indonesia, meski kami paham seperti apa rasanya, tapi apa yang kamu lakukan itu jahat. Menyusul Aktuil, Citra Musik, Hai, MuMu, NewsMusik, Rock, Ripple, Trax dan lainnya. Jahat untuk kami yang memerlukan review musik bergizi. Semoga mereka yang sempat berkiprah didalamnya tetap memilih jalur musik penuh gizi untuk disuarakan.

Rolling Stone Indonesia. Terima kasih !

"Dear Rollingstone Indonesia, Apa yang Kamu lakukan Itu Jahat" publikasi pertama oleh hujanmusik.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.