Merenda Folk di Kota Hujan


"Melulu". Satu kata ini mewakili perasaan terdalam begitu menyaksikan serangkaian hajatan folk. Ya.. saya melulu terganggu dengan banyaknya penampil indie folk yang tak malu-malu unjuk diri. Terganggu karena musik mereka itu ternyata enak.

Terhitung terlambat menyadari bahwa warna musik ini kian hari kian mendapat tempat. Di mana pun itu, suatu acara dengan penampil utama musisi folk biasanya ramai penggemar. Tak cuma datang, mereka pun tak ragu-ragu turut merapalkan lirik dan nada artis idolanya.

Dadang Pranoto (Dialog Dini Hari, Navicula) adalah musisi yang pertama saya saksikan penampilannya secara folk di Bogor. Itu juga atas undangan relasi untuk hadir dalam pameran foto dan peluncuran film dokumenter bertajuk “Siapa Lagi Kalau Bukan Kita”. Dan di situlah saya merasa iri. Crowd yang hadir bukanlah kalangan aktivis yang datang karena pameran, melainkan muda-mudi warga kota kebanyakan. Mereka hadir karena seorang Dadang dengan amunisi folk ‘Pohon Tua’ dan ‘Dialog Dini Hari’.


                                       Dadang 'Pohon Tua' (Dialog Dini Hari, Navicula). Foto : Anggitane

Pada sepanjang penampilannya saya tak banyak mendengar Dadang bernyanyi dengan jelas. Bukan soal kualitas suara Dadang atau pengaturan sound yang buruk, melainkan sing along penggemarnya yang lebih jelas mendomiasi. Sepanjang karir kolaborasi panggung musik, saya tak pernah segitu-gitunya, pun ketika meng-cover lagu orang.

Rasanya masa kini adalah masanya folk tampil dengan kesederhanaannya yang memikat. Nama-nama seperti Dialog Dini Hari, Silampukau, Payung Teduh, Banda Neira, Float, Nostress, Tigapagi, Tetangga Pak Gesang, Stars and Rabbit, Sisir Tanah, Endah N Rhessa, Deugalih & Folks, AriReda, Semakbelukar dan Rusa Militan, adalah nama akrab yang bertebaran di setiap gelaran musik kekinian. Ditambah  Jason Ranti, Oscar Lolang, Junior Soemantri, Mr. sonjaya, Frau, Harlan Boer, Sir Dandy, Adhitia Sofyan, Teman Sebangku, hingga Nada Fiksi. Mereka bergerak dari indie. Kini tak pernah sepi disebut sebagai komposisi cerdas yang tumbuh di komunitas-komunitas.

Tampil sederhanya sebagaimana kesederhanaan yang digambarkan almarhum Denny Sakrie tentang bagaimana folk bermula di Indonesia. Sejak era Gordon Tobing di era 50an hingga awal 70an yang bersama kelompok Impola membawakan lagu-lagu rakyat Indonesia ke mancanegara, hingga folk dengan nuansa kontemporer yang berkembang akhir 60an dengan inspirasi Bob Dylan, Joan Baez, Melanie, Peter Seeger, Phil Ocs ataupun kelompok Crosby-Stills-Nash & Young.

Dalam pengamatan Denny Sakrie, musik folk menjadi berkembang dengan kemunculan duo Franky & Jane, Mogi Darusman, Tara & Jayus, Tika & Sita, Wanda Chaplin, Tom Slepe, Doel Sumbang, Ritta Rubby Hartland, Elly Sunarya, Ully Siregar Rusady, Ebiet G Ade, Iwan Fals, kemudian kelompok Kampungan-nya Sawung Jabo yang masa itu berdomisili di Yogyakarta. Musik mereka muncul dengan tema alam, lingkungan, kritik sosial dan humor. Tema-tema yang saat itu dengan mudahnya populer di masyarakat.

Nama Iwan Fals bisa menjadi acuan penting bagaimana popularitas Folk begitu mengena. Bisa dibilang dari sekian banyak musisi, Iwan Fals adalah musisi folks paling populer di Tanah Air.

Sempat membayang pertanyaan apa beda tampilan folk dengan akustik? Ah...saya tak paham betul. Tetapi dalam pemahaman musik saya yang miskin, itu jelas beda. Apapun bisa di-akustikan, sementara folk sejak awal memang diniatkan tampil dengan pesan sederhana nir distorsi. Jadi bukan semata satu, dua atau tiga orang dengan akustik, tetapi bagaimana sebuah komposisi kreatif bisa memadukan musik rakyat [folks], baik dari pesan dalam karya maupun alat yang digunakan.

Barangkali folk nuansa kontemporer lah yang sering singgah di telinga penikmat musik saat ini, termasuk saya. Folk yang identik dengan musik sendu, kegalauan ataupun pemujaan pada suasana senja, meski tak semua.

Tak ada yang salah juga dengan folk semacam itu. Sendu, galau dan senja dalam folk era kini juga berlaku sama di luar negeri. Bedanya, orang kita punya kecerdasan lebih menggarapnya sedemikian rupa. Menyajikan kembali sebagai musik yang berkualitas.

Saya memilih meminjam pernyataan Oscar Lolang bahwa sejatinya folk, sebagaimana genre lainnya, bisa dimainkan versi apa saja. Musik akustik yang tidak muluk-muluk, sederhana tetapi kaya. Di situlah lirik berperan sangat penting. Di tengah kesederhanaan melodinya, lirik dan cara menyanyikannya akan jauh memperkaya musiknya.

Meski hajatan musik folk kerap tampil di Bogor, saya akui keterbatasan saya mengenali musisi lokal yang berani menunjuk dirinya folk. Bukan semata band yang tampil dalam versi akustik dengan alasan tak enak dengan ‘ketentraman’ warga sekitar, sound minimalis, acara kecil-kecilan dan sebagainya.

Bogor memang bukan bagian kuat dari sejarah musik Folk Indonesia seperti yang ditulis Denie Sakrie. Setidaknya ada 3 (tiga) kota besar yang memiliki kepioniran dalam memperkenalkan musik folk di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung dan Surabaya. Di tiga kota inilah Folk dengan mudahnya menemukan figur dan penggemar. Selanjutnya folk bergerak dengan ramah ke Yogyakarta, Malang, Medan dan kota lain.

Jika pada 8 Juli 1973 berlangsung Parade Folk Sings di Jakarta, hajatan serupa juga diteruskan Cikini Folk Festival 2016 dan Folk Musik Festival yang sudah memasuki gelaran tahun ketiga.

Cikini Folk Festival pada penyelenggaraan terakhir menampilkan musisi-musisi folk seperti Sisir Tanah, Iksan Skuter, Marjinal, Vira Talisa, Adrian Yunan, Sir Dandy, AriReda, Gabriel Mayo, Jason Ranti, Harlan Boer dan Junior Soemantri. Sedangkan Folk Musik Festival 2017 di Kusuma Agrowisata, Batu, Jawa Timur, menyisipkan sederet musisi folk yang berbeda rasa bermusiknya. Mulai dari AriReda, Payung Teduh, Float, Iksan Skuter, Bin Idris, Monita Tahalea, Jason Ranti, Danilla, Pagi Tadi, Silampukau, Stars & Rabbit, Sandrayati Fay, Irine Sugiarto, dan Manjakani.

Dalam perbincangan saya dengan Rinjani Reza, aktor utama kelompok folk Bogor, Jembatan Merah, mendefinisikan folk di Bogor tidak semudah seperti di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Jika ukurannya intensitas manggung, paling mudah menemukan Life Cycla, Akar Bambu, Jembatan Merah dan Coim ‘Oncom Hideung’. Di luar itu sulit menemukan konsistensi tampilan folk Bogor.

Kalau mau menuduh, saya akan katakan bahwa semua ini gara-gara Payung Teduh yang secara kebetulan salah satu personilnya memang sudah dikenal di kancah musik Bogor. Nuansa folk yang ditawarkan kelompok dari Depok itu banyak memikat penyelenggara acara mendatangkan mereka. Demikian halnya dengan Bogor. Pensi sekolah, acara kampus hingga seremoni mulai menandai mereka sebagai penampil utama.

Ah...seandainya kedatangan Payung Teduh, Sandrayati Fay, Mata Jiwa dan sederetan sirkus folk lainnya di Bogor, bisa bersanding dengan kemunculan talenta baru folk Bogor, mungkin saya dan Rinjani Reza akan melakukan wawancara sebenarnya, bukan curhat...hahahaha.

“Kayaknya ada dan banyak, buktinya kalau di beberapa acara suka ada saja garapan folk. Hanya saja karena kurang muncul atau belum punya single, EP atau album, jadinya kita nggak tahu,” tambah mantan bassist Indoriot itu.

Hingga hari ini Folk Bogor belum ke mana-mana dan masih tampak sunyi, belum ada komunitas folk atau nongkrong bareng band folk Bogor.

Sekali lagi, di tengah keterbatasan referensi musik, saya mencoba merenda beberapa nama yang mungkin harus dilengkapi sebagai database folk Bogor. Selain 4 nama di atas, saya mengenal Katapel dengan nuansa musikalisasi puisi. Kibar Esa yang sudah memiliki satu album penuh bersama Kibar Akustik dan satu album kompilasi Alam Semesta. Myment, musisi dari Bubulak yang rutin tag postingan albumnya di Facebook.

Dan entah siapa lagi....mari tambahkan sendiri

"Merenda Folk di Kota Hujan" publikasi pertama oleh hujanmusik.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.