Jangan Kacaukan Musisi dari Panggungnya


Sepekan terakhir ini jadwal wawancara HujanMusik! termasuk kacau, niat bersua dan bercengkrama dengan beberapa musisi lawas  Bogor harus tertunda. Kesibukan lah yang menggagalkan perjumpaan kami dengan mereka. Yang jelas kami sibuk cari cara menghubungi mereka dan mereka sibuk dengan jadwal manggung, berikut pertemuan pentingnya.

Base Jam, ikon besar Bogor di masanya,  adalah salah satu target kami. Sayangnya jadwal mereka ke Jogja untuk ambil bagian dalam perhelatan Prambanan Jazz 2017 memaksa kami untuk menggeser jadwal ketemu.

                    Afgan dalam penampilan utuhnya di Prambanan Jazz 2017. Foto oleh @eventweb.indonesia

Perhatian peminat musik nusantara saat memang sedang tertuju pada perhelatan Prambanan Jazz. Sejak Jumat (18/8) hingga Minggu (20/8) serangkaian musisi berkumpul di kawasan Prambanan, Kalasan, Sleman - Yogyakarta. Untuk meramaikan festival tahunan Prambanan Jazz yang sudah memasuki pergelaran yang ke-3.

Selain Base Jam [reunion], penampil lain diantaranya : Shakatak, Shane Filan, Katon Bagaskara, /rif, Shaggydog, Sarah Brightman, Afgansyah Reza, Tulus, Naif, Kla Project, Raisa x Isyana Sarasvati, Kahitna, Glen Fredly, Sandi Sandoro, Rio Febrian, Tompi, Syahrani, Kunto Aji, HIVI, Yura Yunita, Marcel Siahaan, Yovie & Nuno, The Overtunes, Payung Teduh hingga Stars and Rabbit.

Penelusuran seputar keramaian hajatan jazz internasional di tempat asal saya, Sleman, sedikit terganggu dengan pemberitaan terkait status instagram salah satu penampilnya. Dalam 3 hari terahir, perhatian publik bukan pada kemeriahan dan kenikmatan jazz yang ditampilkan, tapi insiden yang menimpa seorang Afgan. Musisi beserta kelompoknya yang tengah berusaha menampilkan sajian terbaik, kemudian harus dipisahkan dari panggung yang menjadi altar pertemuan antara dirinya dengan crowd.

Bisa jadi malam itu benar-benar malam muram untuk Afgan, sebagaimana curahan perasaannya di Instagram miliknya.

“Semalem ngalamin pengalaman manggung yang gak mengenakan, pertama kali ngalamin kaya gini,” tulisnya.

Malam itu Afgan harus tampil di Britama Stage dengan kondisi di luar harapan. Afganisme (sebutan penggemar Afgan) yang sedari pukul 8 malam harus bersabar menanti pertunjukannya, disebut-sebut baru tunai disaksikan pukul 21.30 WIB. Dari postingan video youtube yang diunggah Mohd Boboy, terlihat bahwa dari 5 lagu yang dinyanyikan, hanya 3 lagu yang ditampilkan dengan layak, 2 lagu terakhir harus ditampilkan Afgan dengan bantuan flashlight para penggemarnya, karena lampu utama dimatikan oleh penyelenggara.

Bahkan dalam kesaksian Kumparan.com, nomor “Knock Me Out” benar-benar menjadi nomor penutup, karena setelahnya langsung disudahi dengan sound yang mati.

Klarifikasi Anas Syahrul Alimi mewakili penyelenggara, apa yang terjadi dengan panggung Afgan adalah kesalahpahaman. Bermula dari kesalahan pengelolaan waktu dari yang seharusnya Afgan tampil pukul 20.00 WIB, terpaksa molor dan bertabrakan dengan jadwal tampil Sarah Brightman pukul 22.00 WIB di Special Stage. Di sisi lain pihak Sarah Brightman tidak mau penampilan live orcherstra-nya diganggu suara dari festival show. Di sini lah mis-komunikasi itu terjadi, Afgan yang diminta memundurkan kembali penampilannya setelah Sarah Brightman, tidak bersedia dan memilih tetap main di jam yang sama.

“Karena pihak Afgan tidak bersedia, akhirnya kita sepakati tetap main dengan resiko yang kita ambil, tapi kenyataannya begitu main pihak Sarah Brightman minta tetap harus dicut. Maaf sekali, pada 5 lagu Afgan harus berhenti,” papar Founder & CEO Prambanan Jazz ini.

Dalam klarifikasi yang dirilis akun twitter @Prambananjazz itu, promotor meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada pihak Afgan. Anas pun mengakui bahwa ini adalah pilihan tersulit yang harus diambil, sekaligus menjadikan insiden ini sebagai catatan penting untuk penyelenggaraan event tahun depan bisa lebih baik.

“Saya sudah telpon langsung dengan Afgan dan berbicara langsung. Saya menyampaikan permintaan maaf sebagai pribadi maupun sebagai promotor Prambanan Jazz.  Afgan mengatakan memang sangat disayangkan kejadian itu, padahal Prambanan Jazz event yang bagus. Terimakasih Afgan. Ke depan kami akan lebih baik lagi dan belajar dari kesalahan yang ada,”

Ya…seharusnya demikian.

Bagaimanapun juga acara telah berlangsung, panggung beserta kemeriahannya telah berakhir. Semoga peristiwa ini benar-benar menjadi catatan penting dalam setiap penyelenggaraan acara musik. Dihentikan, dipaksa berhenti atau istilah lain yang diperhalus, tetap saja tidak mengenakkan.

Afgan beruntung memiliki penggemar militan dan berani melakukan ‘makar’, memaksanya tetap bernyanyi meski lighting mati. Kemudian menggantinya dengan cahaya ciptaan mereka sendiri….Haru!!

Setiap musisi dalam setiap penampilannya sudah barang tentu akan menyajikan tampilan terbaik dan ditutup dengan aksi turun panggung yang elegan, bukan dipaksakan. Memisahkan panggung dari musisinya itu semacam pengalaman tak terpuji.

Suatu waktu saya pernah merasakan dengan band saya Cocktails di Bogor. Dalam acara pensi sebuah sekolah menengah atas, kami dipaksa turun dengan alasan yang tidak ada dalam kesepakatan. Kesamaan dalam kasus Afgan adalah demi menyelamatkan penampilan utama.

Hak penyelenggara memang, tetapi jangan lupa…kita ini tinggal dengan adab orang timur yang punya perasaan. Terbiasa bertetangga dan suatu ketika akan saling membutuhkan. Jadi ada baiknya meminimalisir kekecewaan.

"Jangan Kacaukan Musisi dari Panggungnya" publikasi pertama oleh hujanmusik.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.