Demi Air, Selamat Hari Air..!!!



Sore itu, selepas beraktifitas rasa kesal sempat hinggap manakala tak mendapati kran air rumah tak mengalirkan air. Sejenak telunjuk ini siap mengarahkan pada layanan air PDAM Tirta Pakuan Bogor yang buruk dan sejenisnya. Hal yang wajar karena sepanjang 2017 layanan PDAM mati nyaris rutin menghampiri kami. Entah itu disebabkan relokasi aliran karena dampak area  pembangunan Tol Bocimi atau alasan sumber air baku yang penuh sampah. Pendeknya gangguan teknis ini mendera kami dan 12.000 pelanggan lainnya.

Menyalahkan layanan PDAM mungkin perlu dipisahkan dengan persoalan utamanya, yaitu air. Kita memang terbiasa menyalahkan alur dalam sistem dibandingkan sumber utama kenapa sistem itu terbentuk. Dalam hemat saya PDAM sekedar mengalirkan sepanjang air-nya tersedia.

                                    Air mengalir dari salah satu mata air dikawasan hutan puncak, Bogor. Foto : Anggit Saranta

Sumber mata air PDAM Kota Bogor tersebar di empat tempat, antara lain Kota Batu (kapasitas terpasang 70,70 l/det), Bantar Kambing (135 l/det), Tangkil (120 l/det) dan Palasari (15 l/det). Total kapasitas terpasang di empat sumber mata air itu sebesar 340,16 l/det.

Sedangkan air permukaan berasal dari lima Water Treatment Plant (WTP), terdiri dari WTP Cipaku (300 l/det), Dekeng 1 dan 2 (1500 l/det), Palasari (20 l/det), dan Cikereteg (40 l/det). Total kapasitas terpasang sebesar 1.860 l/det. Sehingga total kapasitas produksi 2200 l/det.

Melihat kenyataan diatas rasanya sangat wajar jika klaim pasokan air bersih Kota Bogor dirasa sangat pas-pasan dengan kebutuhan pelanggan yang terus meningkat. Masih hangat dibenak bagaimana Cisadane saat meluap Februari 2018 lalu, layanan debit air ke pelanggan sangat kecil karena intake dipenuhi sampah. Air yang seharusnya diterima sebagai air kini telah berbaur dengan muatan sampah.

Sedikit sekali yang peka dan mau memperdalam pemahaman bahwa ada ancaman riil lain selain sampah, yaitu soal berkurangnya hutan alam di kawasan Puncak seluas 5,7 hektar kurun waktu 2000-2016 [data FWI]. Kawasan inti yang menyediakan air untuk Ciliwung dan Cisadane itu kini hanya menyisakan 21 persen hutan alam dari total wilayah hulu. Cisadane merupakan sungai andalan penyedia air baku untuk lima Water Treatment Plant (WTP) tersebut diatas.

Ah saya jadi teringat prediksi soal defisit air yang dirilis BNPB, katanya pada 2025 mendatang jumlah kabupaten defisit air meningkat hingga mencapai sekitar 78,4 persen defisit berkisar mulai dari satu hingga dua belas bulan, atau defisit sepanjang tahun.

Bertambahnya jumlah penduduk dengan kebutuhan air yang meningkat tak sebanding dengan ketersediaan sumber airnya. Kerusakan daerah aliran sungai, degradasi lingkungan dan makin berkurangnya kawasan resapan air menjadi catatan mimpi buruk kedepan. Daya dukung lahan telah terlampaui sehingga pengelolaan sumber daya air menjadi lebih rumit.

Entahlah…sepertinya teknologi dan aneka model pengelolaan lingkungan yang mampu mempertahankan persediaan air tak banyak dipilih sebagai rencana pengembangan kedepan. Kalaupun sudah direncanakan pun belum tentu terlaksana sebagaimana kondisi ideal. Penghijauan kembali kawasan hulu harus berebut dengan motif ekonomi dan penguasaan lahan. Rumpun bambu sering luput dijadikan sebagai salah satu jenis tanaman yang baik untuk ditanam, pilihan logis adalah menanam tanaman dengan nilai ekonomi tertentu.

Bahkan kesadaran untuk tidak membuang sampah ke sungai dikita masih terhitung rendah. Kalau tinggi pastinya kelompok semacam KPC (Komunitas Peduli Ciliwung) Bogor tentu kesulitan mencari sampah Ciliwung.

Kenyataan lainnya, banyak diantara kita yang mengacuhkan teknologi lubang resapan biopori sebagai solusi sederhana mengembalikan air kedalam tanah. Parahnya urusan lubang resapan biopori pada akhirnya berujung pada acara seremoni dan target rekor MURI semata. Lupa bahwa setelah dibuat harus dimanfaatkan.

Semua peka kita perlu air, butuh air dan sulit hidup tanpa air. Tapi tak semua memiliki kesadaran yang sama untuk menghadirkan air layak ditengah-tengah kehidupan kita.

Saya tak hendak menunjuk siapapun, saya memilih konsisten membuat dan memanfaatkan lubang resapan biopori dan menghadiri aksi tanam rumpun bambu demi keaneka ragaman hayati. Saya percaya menaman rumpun bambu sama halnya menanam mata air.

Demi air, Selamat Hari Air..!!!

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.