Bennington dan Pertanda 11 Juli

Sepagian ini di Waktu Indonesia Barat, jagat maya ramai mengabarkan berpulangnya bintang rock berkarakter, Chester Bennington. Paling tidak di timeline pribadi saya demikian.  

Riuh yang sama dengan kepergian Chris Cornell Maret lalu, menghenyak khalayak.

Vokalis khas penciri kelompok nu metal/rock alternative Amerika - Linkin Park itu dikabarkan  berpulang dengan cara bunuh diri. Ya...pesohor rock yang mulai 27 Juli ini seharusnya menjalani rangkaian tur padat di negaranya, memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.

*foto : linkinpark.com
 
Cara tragis yang tak disangka-sangka, meski banyak kalangan berspekulasi mendiang tengah mengalami tekanan batin. Bahkan, sebagaimana dikutip CNN Indonesia, perjalanan hidup Bennington pernah mengalami pelecehan seksual, perceraian hingga kecanduan obat-obatan dan alkohol.

Sepakat jika kepergian vokalis yang juga sempat mengisi lini depan Stone Temple Pilots mengejutkan. Tapi tanda kematian sejatinya telah diwartakan Bennington sendiri melalui aku twitternya @ChesterBe pada 2014 lalu. Sebuah cuitan tentang kematiannya nyaris membuat orang percaya.

Bahkan saya sendiri semacam menemukan pertanda. Kegemaran menikmati musik 'senyap' menggelitik saya untuk memasukkan list lagu kategori keras dalam format akustik. Hasilnya saya cukup menikmati berbagai hajatan kanal streaming dan video on demand  yang menampilkan nomor-nomor Linkin Park versi akustik, baik yang di-cover artis lain maupun dimainkan oleh Linkin Park sendiri.

Seperti halnya pada 11 Juli 2017 lalu, pemutar youtube saya mengarahkan pada video unggahan akun Mark McGauley "Final Masquerade" Live Acoustic pada gelaran Linkin Park Underground Fans di Darien Lake, sebuah taman tematis di kota Darien, New York, pada 21 Agustus 2014 silam.

Entahlah... Sejak itu saya sedemikian menikmati dan memutarnya berulang-ulang. Sebelum akhirnya kabar itu tiba.

Sejatinya saya tak begitu mengenal Chester Bennington. Pertama mengenalnya terjadi begitu saja di Jogja, di Pos Satpam kampus swasta di Jogja Barat. Saat itu saya musti berteduh dari hujan sepulang sekolah menuju rumah kontrakan [kost]. Rupanya layar televisi yang ada di pos itu tengah menyajikan video clip kelompok musik Linkin Park dengan One Step Closer-nya. Sosok Bennington langsung mencuri perhatian dan nyaris mengalahkan suara hujan di luaran. Sejak itu, pemutar musik digital Winamp di komputer teman satu kamar langsung penuh dengan nomor-nomor band dari Agoura Hills, California-AS itu.

Ada alasan kenapa sosoknya lebih mudah dikenal. Kemampuannya berteriak dengan nada lebih tinggi seperti mewakili gejolak jiwa muda yang tengah mencari jati diri. Dave Grohl yang saat itu sudah saya kenal lebih dulu, beberapa kali pun harus saya lewatkan demi menyimak "Crawling".

Perubahan selera? Tidak juga. Rasanya tetap ada kaitannya, karena Bennington sebelum bergabung dengan Linkin Park bertindak sebagai vokalis band post-grunge bernama Grey Daze dan merilis 3 album.

Sejarah musik dunia kemudian mencatat Benington dan koleganya di Linkin Park telah merilis 9 album studio dan 3 album konser.

Ya, sebatas itu. Setelahnya saya menjadi anak muda Indonesia pada umumnya, mengikuti perubahan selera hingga lama bersama ska dan menetap di Bogor.

Ah…  rasanya saya akan mengusahakan datang jika terjadi tampilan Tribute to Bennington di Bogor. Mungkin saja saya salah menerka, tapi tawaran Rizza Ramdhani untuk menyimak tampilan Sperm di youtube, tribute semacam itu bisa saja terjadi.  Meski saya rasa mereka lebih dekat pada Deftones, Korn, Soulfly, Limp Bizkit, RATM, Coal Chamber dan sejenisnya.

Namanya juga berharap…

"Bennington dan Pertanda 11 Juli" publikasi pertama oleh hujanmusik.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.