Merawat Hulu Ciliwung Menjaga Wibawa Ibukota



Meski terbiasa dengan urusan sampah sungai, Sutisna tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Niat menikmati teduhnya Bogor dari tepian Ciliwung di kawasan Sempur, Kota Bogor, tak sesempurna yang diharapkan. Sampah terlihat nyata teronggok diantara bebatuan tepian kali. Berbagai macam jenis sampah dari yang kecil seperti ranting, plastik, dan bungkus makanan, hingga onggokan yang berukuran lebih besar seperti sterefom, box-box plastik, hingga pecah belah sisa perabot rumah tangga yang sepertinya telah menempuh perjalanan aliran Ciliwung.

“Pemandangan miris…padahal pagi tadi baru kita bersihkan. Harusnya mereka menghormati Ciliwung dengan tidak meninggalkan sampah dan tidak buang sampah ke Ciliwung,” ungkapnya.

Sutisna pantas kesal, sebagai sesama penikmat ruang terbuka dia merasa berhak menikmati sungai sebagai situs ruang hidup siklus hidrologis sumber kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ia adalah satu dari relawan Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor yang sepekan sekali, yaitu hari Sabtu, rutin turun ke sungai dan mulung sampah sejak 2009.

Jejak Ciliwung Bogor sejatinya kental nilai historis, magis dan dihormati para pendahulu Bogor. Sejarawan Bogor Saleh Danasasmita (1933-1986) pernah meriwayatkan bagaimana Ciliwung menjadi salah satu dari 4 benteng alam kerajaan Pajajaran. Bahkan saat Pajajaran (1482-1567) masih berdiri sebagai kerajaan Hindu terakhir di pulau Jawa. Kesultanan Banten memerlukan waktu 40 tahun lebih untuk bisa masuk ke ibukota Pakuan, pusat wilayah Pajajaran. Dua sungai besar Ciliwung dan Cisadane ditambah Gunung Salak dan Pangrango menjadi alasan kuatnya pertahanan Pajajaran.

Ekspedisi Kapten Adolf Winkler (1690) membuktikan letak ibukota Pakuan diantara dua sungai besar ini. Demikian halnya dengan ekspedisi sebelumnya yang dilakukan Scipio pada 1 September 1687 dan Tanuwijaya bersama pasukan ‘pekerja’-nya. Tanuwijaya adalah orang Sunda dari Sumedang yang berhasil membentuk “pasukan pekerja” dan mendapat perintah dari Gubernur Jenderal Johannes Camphuys (1684-1691) untuk membuka Hutan Pajajaran.

Diriwayatkan, karena rasa hormat Tanuwijaya terhadap bekas Ibukota Pakuan membuatnya menghentikan okupasi di sisi utara Ciliwung. Ia tidak berani melintasinya. Juga kepada rekan-rekannya yang berniat melintasi sungai tersebut dianjurkan agar melakukannya jauh di daerah hulu (Ciawi dan Cisarua). Selanjutnya Tanuwijaya mendirikan sebuah perkampungan di sisi utara Ciliwung yang dalam paparan sejarah Bogor dikenal sebagai ‘Kampung Baru’ yang menjadi cikal bakal terbentukanya pemukiman Bogor.

Saat pemerintah VOC mengincar komoditi kopi sebagai penyelamat keuangan paska jatuhnya harga gula di pasaran dunia tahun 1720, tahun 1721 atau dua tahun sebelum dipaksakannya Preangerstelsel tanah-tanah di Kampung Baru telah memberikan hasil kopi sebesar 61.000 pikul. Kopi-kopi ini umumnya ditanam di ladang-ladang yang tak jauh dari Ciliwung dan anak alirannya.

Tanah yang subur dengan ketersediaan air yang cukup menjadi alasan kenapa Bogor menjadi penting dalam setiap tahapan politik penguasa saat itu. Pada satu waktu di tahun 1745 Bupati Demang Wartawangsa yang tengah berupaya meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kesejahteraan rakyat Bogor yang berbasis pertanian. Menggali terusan dari Ciliwung dari Katulampa ke Cimahpar sampai Nanggewer. Aliran Ciliwung yang konsisten ditujukan untuk menyuplai lahan pertanian di Cimahpar dan sekitarnya melalui Kali Baru.

Sejarah pemanfaatan aliran Ciliwung berlanjut pada Agustus 1776. Saleh Danasasmita mencatat adanya karya besar warga kota yang  berhasil mempertemukan alur Cisadane dengan Ciliwung, yaitu dengan menggali terusan dan memotong alur Cipakancilan. Kemudian berbelok dan meneruskan aliran hingga daerah Warung Jambu. Sebelum airnya tumpah ke Ciliwung aliran dari Cisadene itu dibelah menjadi dua dan sebagian airnya dibelokkan kearah Cipakancilan lewat kanal panjang. Maka berbaurlah air dari tiga sungai : Ciliwung-Cipakancilan-Cisadane yang dimanfaatkan untuk pengairan sawah di daerah sekitar Kedung Badak. Saluran buatan ini kemudian dipecah dua dengan kanal Cidepit yang airnya mengalir kembali ke Cisadane.

***

Suparno Jumar memandangi tumpukan karung 25 kg berisi sampah yang berhasil dikumpulkannya bersama 11 relawan dari KPC Bogor Timur dan staf BPSDA Katulampa. Ada 30 karung yang berhasil diangkat pada aksi mulung Sabtu (6/5) itu. Selanjutnya tumpukan karung itu akan menjadi tanggung jawab Dinas Kebersihan dan Pertamanan untuk diteruskan ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Tidak seluruh sampah yang ada di Katulampa bisa kami angkat. Paling tidak, aksi kami mengurangi sampah yang akan terbawa ke hilir,” terang Parno.

Mulung Sampah dititik bendung Katulampa bukan perkara mudah, sempadannya yang berbentuk turap relatif sulit dijangkau kecuali dengan alat bantu tambang atau tangga. Beruntung relawan yang turun sudah terbiasa dan memiliki kemampuan panjat tali dan tebing.

Penanganan sampah sungai Ciliwung memang belum menemukan kata sepakat. Paling tidak jika hal ini merujuk pada catatan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 yang memposisikan Ciliwung sebagai salah satu dari 15 Daerah Aliran Sungai (DAS)  prioritas untuk dipulihkan. Program pemulihan DAS ini utamanya menyasar perbaikan kawasan hulu dengan melakukan penanaman lahan kritis. Selain itu pembuatan bendungan, bangunan konservasi air, normalisasi sungai, sodetan, dan lainnya.

Membicarakan Ciliwung yang membentang sepanjang 120 kilometer dari hulu di Taman Nasional Gede Pangrango, Jawa Barat, jelas-jelas tak bisa dilepaskan dari persoalan sampah dan banjirnya. Mendudukkannya sebagai salah satu DAS prioritas sudah sepantasnya, meski urusan prioritas Ciliwung sejatinya sudah ada sejak VOC berkuasa di Jawa. Penanganan yang baik di hulu dan tengah tentunya akan dituai di hilirnya. Merawat Ciliwung sama dengan menjaga wibawa ibukota, jika dulu Batavia sekarang adalah Jakarta.

Mari kita lihat Katulampa, keberadaanya ternyata bukan semata urusan irigasi untuk kepentingan kaum tani, tapi lebih kepada upaya pembesar Hindia Belanda melindungi Batavia dari serangan banjir besar Ciliwung. Bendungan karya insinyur Van Breen sepanjang total 74 m, dengan 5 pintu pembagi aliran dan 3 pintu penahan arus itu diresmikan langsung Gubernur Jenderal Alexander Willem Frederik Idenburg pada 11 Oktober 1912. 
 Warga mulung sampah pada Lomba Mulung Sampah Ciliwung (LMSC) ke-9 di Katulampa. Foto : Sutisna

"Adalah sangat perlu bendungan permanen ini direalisasikan, kini Weltevreden (Menteng) bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup,", demikian salah satu sambutan sang Gubernur Jenderal sebagaimana dimuat koran Bataviaasch Nieuwsblad, 12 Oktober 1912.

Jadi, Katoempa-dam atau Bendung Katulampa merupakan bagian dari sistem tata kelola perairan yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda untuk pengendalian banjir Ibukota. Selanjutnya ungsi irigasi dipenuhi dengan mengaliri Oosterslokkan atau Kali Baru

Peran penting sejak 1912 itu pun rasa-rasanya masih berlaku hingga saat ini. Nyaris setiap hujan melanda kawasan Jawa Bagian Barat, khususnya di Puncak-Bogor, Bendung Katulampa selalu ditunggu kabar terbarunya, utamanya status debit Normal atau Siaga.

20 Januari 2014, Presiden Joko Widodo yang kala itu masih Gubernur DKI Jakarta juga membahas penanganan banjir Ibukota di Katulampa. Saat itu pertemuan terjadi antara Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Bogor, Pemerintah Kabupaten Bogor, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Romantisme Ciliwung Bogor diceritakan dibanyak riwayat sebagai sungai dengan bentang alam yang indah dan kualitas air yang baik. Namun setelahnya perlahan-lahan peran penting Ciliwung kian terancam dengan pesatnya pembangunan kota.

Bukan tidak bergerak sebagaimana Ibukota Jakarta, Kota Bogor sejatinya telah memiliki perangkat perlindungan sungai. Selain Perda Nomor 8 Tahun 2011 tentang RTRW, perlindungan kawasan sungai juga terakomodir melalui Perda Nomor 15 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air, khususnya pasal 30 sampai 34. Pasal ini mengatur pemanfaat sumber daya air terkait air permukaan dan ketentuan Garis Sempadan Sungai. Peraturan ini berusaha menjelaskan bahwa keterlibatan partisipasi masyarakat yang paling nyata adalah gerakan peduli sungai dan pencegahan pencemaran sungai yang dilakukan oleh masyarakat.

Pada kegiatan Lomba Mulung Sampah Ciliwung (LMSC) ke-8 tahun lalu yang dilaksanakan pada Sabtu, 28 Mei 2016, tak lebih dari dua jam 2183 warga Bogor berhasil mengangkat sampah anorganik sebanyak 2161 karung dari Sungai Ciliwung. Lomba Mulung Ciliwung diikuti oleh 13 kelurahan di kota Bogor yang dilintasi Ciliwung, dari kelurahan Katulampa hingga Kelurahan Sukaresmi. Lomba ini diinisiasi oleh KPC Bogor dan dilaksanakan bersama Pemerintah Kota Bogor sebagai agenda Hari Jadi Kota Bogor ke-534.

Artinya dari delapan kali penyelenggaraan lomba mulung, ribuan warga Kota Bogor telah mengangkat sampah sebanyak 15.939 karung ukuran 25 Kg. Ini aksi dengan angka yang nyata.

Apa yang ditemui Sutisna dan Suparno Jumar dari kegemarannya ‘saba Ciliwung’ layaknya mengunjungi museum artefak peradaban kota. Beragam jenis sampah dengan mudah bisa ditemui, mulai dari sampah anorganik seperti plastik dan sejenisnya, bergabung dengan sampah kaleng, Styrofoam, furniture rusak, ban bekas, mainan rusak, baju-baju bekas, sampai dengan limbah elektronik.

Sayang sekali, saat ini sangat sulit menemukan bagian Ciliwung dimana kita bisa bebas bermain di dalamnya.  Anak-anak kekinian telah dipisahkan dari Ciliwung karena ulah manusia dewasa lainnya.  Ciliwung masih menjadi tempat sampah dan selokan raksasa. Ihwal rusaknya ekosistem Ciliwung yang berawal dari  hilangnya pagar sungai, yaitu ekosistem riparian. Hilangnya pembatas alami telah menyebabkan asupan materi tidak berguna masuk ke dalam sungai.

Seluruh pembangunan berorientasi pada jalan dan membelakangi sungai. Sungai dianggap sebagai muka belakang tempat membuang berbagai macam kotoran. Sungai tidak lagi dianggap sebagai sumber air bersih yang memberikan suplay air minum setiap harinya.

Muhammad Muslich, seorang penggiat KPC Bogor, pada 2014 lalu melakukan penelitian tumbuhan di sepanjang Cilwung mulai dari Katulampa di Kota Bogor sampai dengan Pasir Gunung Selatan di Kota Depok. Aksinya berhasil mencatat adanya 105 spesies tumbuhan dari 36 famili. Berbagai spesies bambu mendominasi tutupan riparian yang masih alami misalnya di sepanjang Bojong Gede sampai dengan Depok. 

“Rata-rata lebar wilayah bervegetasi di sepanjang areal penelitian tersebut 30,71 meter di kanan dan kiri sungai. Hal ini memberikan asa di Ciliwung untuk mempertahankan wilayah alami di pinggri sungai,” paparnya.

Bisa jadi ini adalah asa yang patut diterima sebagai kemewahan mengingat geliat proyek properti mengokupasi. Asa tersebut patut dijemput dengan mengembalikan sungai sebagai ruang publik yang dapat diakses dengan aman dan nyaman, sehingga masyarakat dapat menikmati, memelajari, mengapresiasi, dan menghargai sungai dengan semestinya. Sungai harus dipandang sebagai sistem ekologi yang menjadi bagian dari bentang alam kota.  Dengan demikian, pembangunan wilayah harus memperhatikan dampak terhadap ekosistem sungai.

Mengutip pernyataan Kepala Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Citarum-CIliwung, Ir. R. Dodi Susanto,M.P. Ciliwung adalah role model pengelolaan sungai di Indonesia. Permasalahannya lengkap, mulai dari aspek tata guna lahan, sumberdaya air, kelembagaan, ekologi dan lingkungan, dan sosial ekonomi. “Apabila aspek-aspek yang menjadi simpul permasalahan tersebut dapat diatasi, maka bukan tidak mungkin, Ciliwung akan menjadi etalase dan sejarah bagaimana sungai dan daerah aliran sungai dapat dikelola dengan baik dan memberi manfaat untuk masyarakat”, tulisnya dalam pengantar Buku Tak Lelah Melangkah Ciliwung Butuh Komitmen Bersama, rilisan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Citarum Ciliwung, tahun 2016 lalu.
Jika Ciliwung memang benar suatu role model mari kita tunggu, sejauh mana komitmen pengelolaannya bisa menjawab tantangan wibawa Ibukota dan daerah penyangganya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.