Memahami Kampung Kota dari Sudut Pulo Geulis

Hiruk pikuk tampak membuncah keheningan Pulo Geulis pada Minggu, 9 April lalu. Tarian anak-anak berbaur dengan antusias warga, sesaat setelah seremoni penyerahan zine fotografi tentang kampung Pulo Geulis oleh komunitas Kampoeng Bogor. Suasana makin khidmat dengan lantunan Sholawat dengan iringan musik hadroh oleh remaja masjid RT 05 dan 04. Pemuda dari RT 01 juga tak ketinggalan unjuk kebolehan bermain band demi menjaga kemeriahan. 
Berlanjut malam, tayangan 5 film komunitas yang salah satunya sebuah film dokumenter tentang Kampung Pulo Geulis, sukses menarik perhatian warga. Mereka bahkan tak bergeming meski hujan mengguyur cukup deras.
Demikianlah sekelumit aroma kesuksesan acara ‘DalamXLuar yang digagas sekelompok anak muda dengan identitas “Melek Bogor”.
Ya…Setelah satu tahun berhimpun dan bergiat bersama dalam satu wadah, mereka menggelar kegiatan interaksi Kampung kota di Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Hajatan yang kental dengan nuansa silaturahmi dan semangat akulturasi ini diwujudkan dalam agenda pemutaran film komunitas dan pertunjukan warga dari lima RT.
‘Melek Bogor’ juga meluncurkan photographic booklet, sedikit cerita soal kampung dan DVD film ‘DalamxLuar’, sebuah dokumentasi cerita kampung yang mereka hasilkan. Booklet 18 halaman dan film durasi 13 menit ini menandai hasil satu tahun kegiatan Kampoeng Bogor dan Melek Bogor dibawah Urbanisme Warga.
Program ‘Melek Bogor’ adalah program yang bertujuan untuk membangun heritage inventory dalam bentuk web dan aplikasi smartphone. Selengkapnya bisa dilihat di www.melekbogor.id
DalamxLuar merupakan konsep yang lahir dari refleksi warga yang bergiat melalui program ‘Melek Bogor’. Kegiatan yang awalnya ingin memetakan aset pusaka (heritage inventory) di Kota Bogor, akhirnya bergulir dengan begitu dinamis. Langkah awal pengumpulan data lantas memiliki peranan tak hanya menyimpan dan menyusun informasi terkait aset pusaka, tapi juga interakti akrab antara pengumpul data dan narasumbernya.

Sejak digulirkan Desember 2015, Melek Bogor justru didominasi anak-anak muda usia awal dan tengah 20-an. Mereka adalah warga kota yang terjaring dari proses pendekatan yang dilakukan oleh Kampoeng Bogor dan disatukan oleh ketertarikan untuk mencoba menemu kenali tempat dimana mereka tinggal. Reza Adhiatma, Koordinator Kampoeng Bogor mengakui dengan jujur guliran aktifitas ini.
‘Melek Bogor’ pada akhirnya menjadi semacam laboratorium, tempat semua ide dikumpulkan lalu coba ditantang kembali, tempat dimana semua orang melatih menyusun pertanyaan dengan baik,” terang Reza dalam siaran pers yang saya terima pada 9 April 2017 lalu.
‘Dalam’ atau ‘Luar’ adalah perspektif bagaimana kita menghayati sesuatu, soal kampung kota misalnya, begitu banyak hal yang tidak akan kita mengerti kalau hanya memiliki sedikit waktu dan memandangnya dari luar. Kampung kota hanya akan dimengerti bentuk estetikanya ketika kita berani menyisakan cukup waktu untuk menyelami. Melek Bogor kemudian memutuskan untuk mulai melakukan eksplorasi tentang kampung kota dan segala dinamikanya dengan mengambil kawasan Pulo Geulis sebagai studi kasus.
Wanda Dani Putra adalah satu dari sekumpulan anak muda di ‘Melek Bogor’. Ketika banyak sebagian orang memandang Kampung pada sisi negatifnya, ia justru memilih menyisakan cukup waktu untuk menyelami dan merasakan bagaimana arus kehidupan yang sebenarnya terjadi didalam.
“Kita baru akan mengetahui bagaimana keindahan terpendam yang selama ini tidak kita ketahui. Yang pada akhirnya akan membentuk persperktif baru dalam pikiran kita terkait pemaknaan sebuah “Kampung, ” terang Wanda yang juga ketua pelaksana acara DalamXLuar.
Seluruh citra dan cerita yang ditampilkan pada DalamXLuar merupakan produksi pengetahuan bersama warga. Dalam proses interaksi antara warga kampung Pulo Geulis dengan Melek Bogor, fotografi dan videografi dipilih sebagai karya produk akhir yang memenuhi fungsi dokumentasi proses sosial dan interaksi yang terjadi di Pulo Geulis.
Pulo Geulis layaknya oase ditengah hiruk pikuknya kota yang sedang menata. Keberadaannya tepat membelah aliran Sungai Ciliwung di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Lokasi ini Bukan muara sungai dan jauh dari muara, nama Pulo Geulis sendiri baru resmi melekat setelah akhir 1960-an.
“Pulo Geulis disebut pulau cantik karena diapit dua sungai Ciliwung,” terang Hamzah, Ketua RW 04 Kelurahan Babakan Pasar.
Pulo Geulis masuk kedalam wilayah RW 04, Kelurahan babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor. Daratan tengah sungai seluas kurang lebih 1,57 kektar ini terdiri dari 5 RT dengan 2500 jiwa dari 678 Kepala Keluarga. Profil penduduknya terdiri dari 60% etnis Sunda dan 40% etnis Tionghoa, juga ada sebagian kecil etnis lain.
Dalam catatan Bram Abraham Halim, salah satu tokoh masyarakat, warga Pulo Geulis sangat menjunjung tinggi kebersamaan, serta kerukunan dalam perbedaan. Pembauran diantara masyarakatnya telah terjalin sejak lama. “Perbedaan jangan disamakan tapi harus disatukan. Bersatu dalam perbedaan, akan terasa indah. Bersatu disini bukan berarti bercampur, ibarat air tak bisa bercampur dengan minyak tapi bisa bersatu dalam botol. Itulah kehidupan kami di Pulo Geulis,” papar Bram.
Fakta di Pulo Geulis memiliki sarana ibadah dua mesjid, tiga mushola dan satu kelenteng (vihara Maha Brahma), menjadi bukti bagaimana akulturasi itu terjadi. Untuk vihara, selain digunakan sebagai tempat peribadatan aliran kepercayaan Tao, Khong Hucu dan Buddha, juga sebagai lokasi ziarah karena didalam vihara juga terdapat situs makam dan petilasan. Vihara ini juga sering dikunjungi oleh peziarah dari luar kota, mahasiswa dan komunitas pecinta sejarah.
Sekelumit latar belakang itulah yang mendasari Melek Bogor melakukan eksplorasi tentang kampung kota dan segala dinamikanya disana. Melek Bogor terjadi buah kolaborasi antara Kampoeng Bogor dengan jaringan Urbanisme Warga.
Kampoeng Bogor merupakan sebuah identitas kegiatan  yang fokus membangun pengetahuan dan gagasan terkait pusaka kota di Bogor melalui serangkaian studi komprehensif sejarah kota maupun kaidah pelestarian. Kampoeng Bogor juga menjadi platform untuk mendorong kolaborasi aktor multi disiplin untuk menghadirkan perspektif baru dan segar tentang pusaka. Kata kampoeng pada Kampoeng Bogor merupakan gambaran dari hasil rumusan harapan setiap orang yang terlibat di dalam Kampoeng Bogor. Lebih lengkap tentang Kampoeng Bogor www.kampoengbogor.org
Urbanisme Warga adalah jaringan pembelajar kota bersama masyarakat, dengan tujuan menganjurkan produksi pengetahuan perkotaan dan prakarsa warga lainnya untuk memperbaiki kota. Tentang urbanisme warga lihat https://www.facebook.com/groups/845515932211429/?fref=ts
*diolah dan dituliskan kembali dari siaran pers “Melek Bogor : Refleksi Visual Kota di Pulo Geulis”, 9 April 2017. “Catatan Pelaksanaan Acara DalamXLuar di Pulo Geulis, Kampoengbogor.org, 17 April 2017.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.