Memahami Sebuah Tempat yang Diniatkan Menjadi Gerbang Kota

Tepas Salapan Lawang Dasakerta (TSLD), diresmikan pada Rabu (7/12/2016) lalu.  Foto : Pemkot Bogor

Sepuluh pilar menjulang mendominasi pandangan seketika begitu melaju memasuki jalan Pajajaran menuju lajur Otista. Sedemikian menonjol hingga sukses melewatkan aura simbolis Tugu Kujang maupun rentetan sejarah panjang Kebun Raya Bogor yang memasuki usianya ke 200 tahun. Pilar-pilar yang dimaknai sebagai teras kota dan dimaksudkan beranda pintu masuk kota Bogor dengan kesan monumental dan megah, khas kota-kota bersejarah di Eropa. Sebuah monumen Kota Pusaka yang ditempatkan sebagai ikon baru kota yang  pernah menjadi pusat kekuasaan, ibukota Pakuan Pajajaran.

Ya…sejak Rabu 7 Desember 2016 lalu Kota Bogor resmi memiliki sebuah teras kota. Teras yang disebut Tepas Salapan Lawang Dasakerta (TSLD). Teras yang dihadirkan sebagai pendamping dan penguat eksistensi Tugu Kujang yang telah berdiri sejak 1982. TSLD menjadi simbol masuk ke Kota Bogor. Sekaligus melambangkan sebuah Tepas(Teras atau Beranda) dari sebuah hunian warga sunda yang selalu terbuka menyambut para tamunya dengan penuh keramahan. Teras ini juga dirancang untuk menjadi sebuah pelataran dan ruang publik terbuka. Pelataran yang difungsikan untuk pejalan kaki, penyandang disabilitas dan jalur lintasan sepeda.

Pemerintah Kota Bogor memaparkan bahwa sepuluh tiang yang berdiri megah mengingatkan keberadaan tiang-tiang keraton Pakuan Pajajaran sebagaimana tertulis dalam buku “Sejarah Bogor” karya Saleh Danasasmita. Kemudian tiang-tiang bangunan bekas gedung Karesidenan, tiang tiang Balai Kota Bogor, tiang tiang Kantor Dinas di Jalan Paledang serta tiang penopang Pusaka Istana Kepresidenan Bogor. Bangunan cagar budaya tersebut berkontribusi memberi inspirasi pembuatan sepuluh tiang Tepas Salapan Lawang. Dengan menjaga 10 raga manusia membuka sembilan pintu kesejahteraan masyarakat dengan berpegang pada prinsip pembangunan berkelanjutan.

“Di Nu Kiwari Ngancik Nu Bihari Seja Ayeuna Sampeureun Jaga” yang tertera dibagian atas merupakan pesan moralpusaka Pajajaran. Sebuah kalimat bijak dari Prabu Siliwangi sebagai pesan moral artinya: “segala hal dimasa kini adalah pusaka masa silam dan ikhtiar hari ini adalah untuk masa depan”.

Kesepuluh tiang tersebut sekaligus menghadirkan sembilan pintu (salapan lawang). Ini melambangkan sembilan titik ‘pintu’ yang ada pada raga manusia dan menjadi penghubung bagian tubuh manusia dengan alam semesta. Salapan lawang adalah simbol filosofi utama Pakuan Pajajaran yakni 'Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh’. Tiga sikap dialogis antar sesama insan (silih, saling) itu adalah kunci pembangunan Kota Bogor yang berkelanjutan.

Tiga sikap itu, menurunkan sembilan acuan kesejahteraan yakni: 1. Kedamaian (Peace); 2. Persahabatan (Friendship); 3. Keindahan (Beauty); 4. Kesatuan (Unity); 5. Kesantunan (Good-manners); 6. Ketertiban (Ordered by Law); 7. Kenyamanan (Convenience); 8. Keramahan (Hospitality), dan 9. Keselamatan (Safety). Jadi dengan menjaga 10 bagian dalam raga maka 9 aspek kesejahteraan akan terwujud dan pintu kesejahteraan akan terbuka.

TSLD terwujud berkat dukungan pemerintah pusat melalui program kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, mengembangkan potensi kota kota pusaka (Heritage Cities) di Indonesia. Dukungan terhadap keberadaan Kota Bogor sebagai Kota Pusaka.

TSLD menjadi simbol pintu masuk ke Kota Bogor. Sekaligus melambangkan sebuah tepas (teras atau beranda) yang selalu terbuka menyambut para tamunya dengan penuh keramahan. Walikota Bima Arya mengungkapkan keberadaan landmark baru ini akan berdampak pada penataan Kota Pusaka di sekitar kawasan Kebun Raya sekaligus menjadi daya tarik baru untuk Kota Bogor.

“Lawang Salapan ini bagian dari penataan Kota Pusaka, kemarin ada lawang Surya Kencana di Pecinan, ini titik pusaka kolonial yang terintegrasi dengan penataan pedestrian trotoar sekeliling istana dan kebun raya. Ini juga sarat dengan nilai-nilai, ada 9 nilai yang menjadi filosofi kota Bogor,” ujar Walikota Bima Arya saat meresmikan Tepas Salapan Lawang Dasakerta, Rabu (7/12) lalu.

Dari sisi filosofi dan makna memang tidak ada yang membantah, namun citra visual yang dihadirkan nyata-nyata telah mengambil alih peran sentral ikon yang selama ini telah tumbuh di masyarakat.

Dalam pandangan penggiat landskap, kawasan segitiga Tugu Kujang termasuk ruang yang terlalu kecil untuk obyek yang beragam. Pakar Ekologi dan Manajemen Landskap IPB, Prof. Dr. Ir.Susilo Hadi Arifin, MS, mengkhawatirkan ikon baru yang dibuat justru tidak mendukung upaya mewujudkan Kota Bogor sebagai Kota Pusaka. Menurutnya sangat disayangkan bangunan tersebut justru mempengaruhi nilai estetika Tugu Kujang sebagai ikon lama Kota Bogor. “Ini kembali kepada perencanaan dan desain ruangnya, apakah sempat disesain secara detail apa tidak, membangun disini dampaknya apa kemudian dampak apa yang tertutup dan dampak apa yang bisa kita pinjam,” katanya.

Kondisi yang dinilai kurang pas ditilik dari niat konstruksi kesepuluh tiang yang harusnya menjadi penguat kehadiran Tugu Kujang sebagai landmark kota. Juga menjadi penjalin citra visual dan sumbu formal antara Tugu Kujang dengan kawasan terpadu Istana Kepresidenan Bogor dan Kebun Raya Bogor.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sahlan Rasjidi mengatakan, karena ini progamnya pusat pihaknya telah mengupayakan masukan agar bentuk bangunan bisa bercirikan masyarakat lokal sebagaimana masukan budayawan.

Desain tiang yang diolah untuk memunculkan keindahan sekaligus kesederhanaan bunga teratai dan pokok pohon, diniatkan untuk mewakili pusaka alam yang subur di Kebun Raya Bogor dan bukan tiruan karakter bernuansa Eropa. Sementara dua buah bangunan dengan karakter lingkaran melambangkan keindahan hubungan manusia sebagaimana monumen yang dibangun Sir Stamford Raffles pada Lady Mariamne Raffles di dalam Kebun Raya Bogor.

Arkeolog dari Universitas Indonesia, Dr. Hariyanti O. Untoro MA, dalam diskusi ‘Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya’ di gedung BKPP Bogor, (22/12). Menyayangkan kenapa pilihan simbolnya adalah mausoleum. Menurutnya ini bisa menjadi tertawaan untuk yang paham apa itu mausoleum.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mausoleum diartikan sebagai bangunan makam yang luas dan megah, bisa juga diartikan sebagai monumen makam.

Ikon, landmark dalam bentuk monumen kota sudah selayaknya harus menumbuhkan kebanggaan warganya. Makna filosofis kuat yang terkandung didalamnya sayang jika dibaca dengan persepsi yang berbeda. Apalagi hanya dimanfaatkan sekedar pedestrian dan gerbang kota.

Faktanya TSLD telah terbangun dan berdiri megah menyapa setiap orang yang datang. Terbangun dengan anggaran Rp. 2,8 Milyar yang sudah sepantasnya harus berguna di masa mendatang. Pemerintah kota dan warganya mesti berkolaborasi meramunya sedemikian rupa agar nilai-nilai sebagai kota Pusaka benar-benar hadir.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.