Kuasa Simbol Kota


Dalam konteks perubahan sebuah kota seringkali kita mengkonsumsi sistem baru dianggap lebih update dari pada sistem warisan lama, kota dengan perspektif baru dianggap lebih menjanjikan dan adaptif dengan perkembangan peradaban. Sementara kota lama tak lebih dari sebuah cerita yang wajar untuk ditinggalkan. Lebih tragis jika kondisi ini ada di kota tanpa riwayat dan kebanggaan apapun.Memori lama yang tercipta tak ubahnya catatan trauma yang tak perlu dikenang.

Dan Bogor bukanlah wilayah yang miskin riwayat. Siapapun yang memahami keberadaan Bogor sebagai sebuah wilayah tentu marfum dengan kebesarannya sejak kepindahan kota Pakuan (ibukota Pajajaran) pada 3 Juni 1482 ke wilayah ini. Wilayah pemukiman dengan sejarah peradaban yang panjang, meninggalkan jejak-jejak kebudayaan yang menjadi pusaka kota (heritage city) yang kemudian menjadi pembentuk identitas sekaligus sumber daya kota  di masa kini.
Wilayah yang dalam konteks fungsi kotanya kemudian dijuluki Buitenzorg oleh Baron Van Imhoff (1744). Hingga akhirnya sejarah kita mengenal keberadaan rumah peristirahatan yang pertama kali dibangun Van Imhoff kurun waktu 1745 sampai 1750 sebagai landmark legendaris untuk kota seluas 11.850 hektar. Kota tanpa kepenatan, kota dengan intensitas hujan lebih sering dibanding wilayah lain, dan juga satu dari 10 kota anggota pertama Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).

Kota yang dianggap memiliki kualitas dan nilai budaya, berupa aset pusaka alam, budaya, saujana serta rajutan berbagai pusaka tersebut secara utuh. Penegasan sebagaimana Piagam Pusaka Indonesia tahun 2003 yang mengamanatkan pelestarian aset-aset dan peninggalan bersejarah yang dimilikinya dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.

Sebelum dimunculkannya ikon-ikon kota ke-kinian di Bogor, identitas kota sejatinya telah dicirikan keberadaan Gunung Salak. Jika disebutkan secara lengkap, bentang alam kota ini juga didukung keberadaan Gunung Pangrango dan dua sungai besar, Ciliwung dan Cisadane. Diriwayatkan keberadaan dua gunung dan dua sungai besar ini menjadi benteng alam Pajajaran yang membuat musuh tidak mudah masuk menembus benteng ini.

Makna simbolis Gunung Salak yang dijadikan lambang kota sejak 1924, membuktikan kuat dan eratnya pertalian filosofis gunung setinggi 2.221 m dpl itu dengan kehidupan masyarakat Bogor dari masa ke masa. Keberadaannya seolah menegaskan sampai kapanpun Bogor tetap dalam bayangan gunung yang namanya diambil dari bahasa sansekerta : salaka, yang berarti perak.

Sayangnya untuk menikmati pemandangan Gunung Salak secara utuh dari kota Bogor bukan perkara mudah, pemandangan utuh hanya bisa dinikmati dari spot-spot tertentu. Perubahan pembangunan kota Bogor dalam 5 tahun terakhir berdampak terganggunya pemandangan secara luas Gunung Salak dari tengah kota.

“Ketika saya pertama datang melalui pintu tol tahun 1979, yang saya ingat adalah pemandangan Gunung Salak yang begitu indah. Sayang yang begini ini tidak menjadi perhatian kita,” beber Prof. Dr. Ir.  Susilo Hadi Arifin, MS., pakar Ekologi dan Manajemen Landskap Institut Pertanian Bogor (IPB), pada diskusi Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya di BKPP Bogor, (22/12).

Menurutnya dalam ilmu Landskap, keberadaan Gunung Salak masuk dalam Borrowing Landscape. Kota Bogor meminjam Gunung Salak dari Kabupaten Bogor untuk dinikmati dari berbagai sudut. Sedangkan dalam Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia, pemandangan Gunung Salak sah sebagai pusaka saujana yang patut dipertahankan sebagai warisan, gabungan pusaka alam dan pusaka budaya dalam kesatuan ruang dan waktu yang luas.

Penanda keberadaan Kota Bogor berikutnya adalah kebun raya yang sudah dijadikan kiblat ilmuwan Botani sejak pertama diresmikan pada 1817. Areal koleksi tumbuhan di belakang Istana Gubernur Jenderal yang dibangun CGC Reinwardt ini memiliki daya pikat untuk dikunjungi sebagai ruang terbuka hijau di tengah-tengah kota. Meski berpagar yang sempat memberi kesan menjauhkan masyarakat Bogor dengan kebunnya, sekeliling Kebun Raya dan Istana Bogor saat ini sudah dibangun pedestrian  yang memungkinkan kedekatan itu kembali terbangun.

Gunung Salak, Istana Bogor dan Kebun Raya merupakan elemen yang menjadi Landmark sekaligus ikon yang mewakili filosofi kehidupan Bogor dari masa ke masa. Hingga akhirnya Tugu Kujang dibangun Walikota Achmad Sobana diatas lahan seluas 26x23m. Tugu setinggi 25 m itu dibangun sebagai identitas, jatidiri sekaligus simbol perjuangan kota Bogor. Tugu dengan ornamen Kujang yang berdiri kokoh setinggi 7 meter itu selanjutnya menjadi ikon kebanggaan baru Kota Bogor yang kuat dan sarat makna, sekaligus dihormati warganya sejak 1982. Sayangnya pada tahun 2011 kewibawaan Tugu Kujang mulai terkikis seiring dengan dibangunnya sebuah hotel pada lajur menuju Jl. Otto Iskandar Dinata.

Dan kini, menandai 34 tahun berdirinya Tugu Kujang, Tepas Salapan Lawang Dasakerta (TSLD) dibangun dan diposisikan untuk mengambil alih ikon utama Bogor berikutnya. Bentuk bagunan yang lebih megah dari Tugu Kujang begitu menonjol dan sangat mendominasi pandangan. Tak hanya Tugu Kujang, kemegahan Tepas Salapan Lawang Dasakerta juga berhasil mengambil peran Kebun Raya Bogor (KRB) yang merupakan warisan (heritage) Bogor yang sejatinya lebih kuat maknanya, hamparan kawasan yang diidentifikasi Saleh Danasasmita sebagai Samida di masa Sri Bduga Maharaja Prabu Siliwangi.

Pembangunan TSLD sebagai teras kota dimaksudkan untuk mendampingi sekaligus memperkuat eksistensi Tugu Kujang. Dibangun sebagai upaya memuliakan sejarah dan meneruskan nilai-nilai semangat semua untuk selalu memberikan yang terbaik bagi Kota Bogor. Pengingat bahwa Kota Bogor pernah mengalami masa-masa yang hebat sebagai pusat kekuasaan Pajajaran yang memakmurkan warganya yang membuat mereka bangga kepada pemimpinnya. Penempatannya yang dekat sekali dengan Tugu Kujang idealnya harus saling mengisi, sinergi dan komplemen. Namun menilik arsitekturnya yang terlihat megah justru kontras dan terlihat berdiri sendiri.

Jika mau berkaca, mungkin bisa belajar dari kota Roma yang memiliki landmark kota yang sama-sama kuat. Meski ada Colosseum, St. Peter’s Basilica, Pantheon, Vatican Museum, Trevi Fountain, Castel Sant’Angelo dan lainnya. Semua seperti memiliki satu garis temu yang sama dan memiliki konsep penataan ruang yang serasi. Ada beragam objek tapi orang diberi pilihan dan ada korelasi dengan budaya kontemporer saat ini.

Landmark dalam pengertian umum bisa diartikan penanda atau tetenger. Seorang Thomas Gordon Cullen, arsitek dan perancang kota berkebangsaan Inggris menuliskan Landmark merupakan suatu simbol yang dibuat secara visual menarik dan ditempatkan pada tempat yang menarik perhatian, biasanya mempunyai bentuk unik atau monumental. Beberapa landmark hanya mempunyai arti di daerah kecil dan hanya dapat dilihat di daerah itu/titik yang menjadi ciri dari suatu kawasan, sedangkan lain mempunyai arti besar untuk keseluruhan kota dan bisa di lihat dari mana-mana.

Senada dengan teori diatas, dalam sebuah wawancara dengan televisi lokal Bogor (MGS), pengamat perkotaan Yayat Supriatna menegaskan bahwa landmark atau penanda kota sebagai ikon identitas kota itu penting. Posisinya sebagai cerminan karakter representasi dari branding kotanya itu sendiri. “Dengan adanya simbol-simbol baru bagi sebuah kota, itu akan menambah nilai branding kota menjadi lebih baik,” paparnya.

Sementara itu ikon kota dalam pemahaman Prof. Dr. Ir.  Susilo Hadi Arifin, MS, adalah sebuah simbol yang tidak serta merta dimunculkan begitu saja. Ada kemiripan dengan landmark tetapi ikon lebih menjadi simbol utama yang akan menjadi primadona. Simbol ini biasanya memiliki penterjemahan arti yang mencakup semua kepentingan masyarakat dan lingkungan. Karena alasan kedalaman filosofi sebuah simbol itulah kenapa dalam penentuan suatu simbol kota perlu disepakati bersama antara penyelenggara kota, budayawan, ahli sejarah, ahli lingkungan dan masyarakat. Perlu disampaikan dengan jelas filosofinya seperti apa untuk bisa menonjolkan produk baru sebagai sebuah simbol.

“Ikon itu kan filosofi budaya masyarakat setempat. Saya belum bisa melihat Lawang Salapan sebagai tetenger atau ikon, karena tetenger Bogor itu ya Tugu Kujang. Harusnya itu yang dilestarikan jangan sampai dengan adanya itu malah menenggelamkan Tugu Kujang, orang malah lupa,” tegasnya.

Hingga kini Tugu Kujang memang masih berdiri meski kemegahannya dikalahkan ‘pendamping’-nya. Itupun masih harus berserak dan berebut klaim ikon kota dengan bangunan komersial berwujud pusat belanja atau gedung bertingkat yang terus tumbuh.

Kita tunggu, apakah Tugu Kujang tetap bertahan sebagai ikon primadona kota, atau sekedar penanda kota sebagaimana plaza Kapten Muslihat berikut monumen patungnya, taman-taman kota yang telah terbangun, bangunan kolonial hingga kawasan Situ Gede. Tersebut terakhir sejatinya masuk kategori pusaka alam yang tampaknya masih malu-malu untuk dikembangkan sebagai penanda kota.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.