Melupakan Kemacetan


Suatu waktu saya pernah dikejutkan pernyataan seorang relasi yang menyebut hidup saya terhitung nikmat dibandingkan dirinya. Kemahiran menembus kemacetan dengan sepeda adalah ukurannya. Entahlah…itu pernyataan sarkastis atau pujian tulus, tak paham persis. Terjadi sesaat setelah sama-sama menempuh rute Sempur-Dramaga, bedanya saya menempuh dengan sepeda, dia memilih naik Transpakuan dan menunggu jemputan teman di Terminal Bubulak.

Kami tiba di Dramaga dalam jeda tak terlalu lama sebenarnya, saya tiba lebih dulu dengan tubuh penuh peluh sementara rekan tadi datang belakangan dengan luapan keluhan. Klasik, urusan apalagi kalau bukan kemacetan dan fasilitas angkutan umum yang jauh dari kata nyaman.

Begitulah, tak mudah tinggal di kota dengan label berkendara terburuk kedua di dunia menurut aplikasi digital berbasis lokasi. Harus menerima kenyataan, melintasi jalan dan pasrah menerima kemacetan.

Hasil kajian Dinas Perhubungan menyebutkan, pada tahun 2013 laju kendaraan di Kota Bogor 20,5 Km/jam. Pada tahun 2014 laju kendaraan 15,5 Km/jam. Sementara setiap harinya, sekitar 50.000 kendaraan melaju di jalan-jalan utama seperti Jalan Padjajaran, Ir H Djuanda, Jalan Sudirman, Soleh Iskandar dan Jalan Tajur. Tak mengherankan jika jumlah kendaraan dan beban jalan yang tak sebanding itu pada akhirnya memunculkan antrian yang berujung kemacetan.

Saya teringat catatan yang ditulis wartawan kompas yang mengutip kembali pernyataan Walikota Eddy Gunardi (1994-1999), bahwa kemacetan lalu lintas di Kota Bogor sudah sulit diatasi. Biar sepuluh kali ganti wali kota, dan bahkan sampai kiamat pun, masalah kemacetan itu tak bisa lagi diatasi. Pernyataan frontal yang rasanya masih relevan hingga Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dan wakilnya Usmar Hariman yang dilantik pada 7 April 2014. Pemimpin Kota Bogor hingga 2019 ini tetap menempatkan kemacetan sebagai salah satu program prioritasnya.

Survey aplikasi waze hanyalah puncak berbagai survey dan prediksi terkait  kemacetan Bogor. Waze merupakan salah satu aplikasi digital berbasis lokasi yang cukup banyak dipakai pengguna smartphone di Indonesia. Aplikasi ini seringkali digunakan untuk memandu perjalanan dan menghindari macet. Waze dimanfaatkan pengguna di Indonesia untuk berbagi informasi dan mengetahui situasi lalu lintas, dengan memanfaatkan fitur GPS.

Kemacetan dipuncak akhir pekan sejatinya bukan hanya milik Bogor saja. Saya contohkan Jogja dan Bandung memiliki persoalan yang sama. Jika di Bogor pengendara merespon kemacetan dengan sumpah serapah ke media sosial yang dibumbui komentar sumir soal kinerja walikota. Di Jogja nyaris berlaku sama, bedanya warga disana lebih memilih berdoa agar musim liburan segera berakhir agar mereka segera terbebas dari kepadatan lalu lintas.

Berakhir dengan Wacana Bersepeda

Benar kata teman tadi, saya beruntung tak bergantung pada kendaraan bermotor dan memilih melawan kemacetan. Saya beruntung memilih sepeda sebagai moda karena terdesak keadaan, enggan tersandera kemacetan. Asli, menghindari kemacetan atau mengikuti kemacetan itu sama lelahnya. Sama-sama rugi waktu dan sumberdaya.

Bisa jadi termasuk saya salah satu pelaku penyebab kemacetan jalanan kota. Takdir memungkinkan saya memelihara Mazda tua dan motor 4 tak produksi 2007. Tahu betul susahnya mencari jalur demi menghindar kemacetan. Itulah kenapa Mazda keluaran 1984 itu lebih sering dimanja di garasi dari pada dipanaskan dijalan raya.

Apa perlu (dan mau) Kota Bogor suatu waktu akan mencontoh Kota Hanoi, Vietnam yang memberlakukan larangan transportasi kendaraan bermotor ?. Pemerintah Vietnam telah membuat keputusan untuk melarang transportasi roda dua hilir mudik di pusat kota untuk mengatasi kemacetan. Aturan yang rencananya diterapkan pada 2025 mendatang.

Bersepeda pada akhirnya menjadi pilihan, satu moda transportasi yang murah, praktis, modern, dan ramah lingkungan, pertimbangan saya ini cocok menjadi senjata melupakan kemacetan.

Suatu waktu ditahun 2014 saya sempat tersanjung dengan kebijakan anjuran satu hari tanpa kendaraan bermotor di Kota Bogor. Pilihannya naik sepeda atau angkutan umum. Jika ini dipatuhi dan konsisten dilakukan bukan hal mustahil gerakan melupakan kemacetan bisa terjadi. Sayangnya himbauan itu tak berbekas, jalan tetap memadat, PNS yang diharapkan sebagai contoh model pelaksanaan banyak yang enggan bersepeda atau naik angkutan umum dengan berbagai alasan. Bersepeda kemudian tersisa hanya dilakukan Walikotanya saja dan komunitas-komunitas.

Hingga akhirnya mencuat kabar berlanjutnya pembangunan pedestrian dan jalur sepeda seputaran Istana-Kebun Raya, akhir tahun ditargetkan selesai. Tentu saja ini kabar baik bagi saya yang sejak lama merindukan jalur sepeda. Buat saya dan rekan-rekan yang terbiasa bersepeda ke tempat kerja (Bike to Work) tentu merasakan betul bagaimana sulitnya berkendara ditengah kota, sudah minggir tetap dipaksa menyingkir. Salah-salah taat peraturan di ‘lampu merah’ malah berujung umpatan dan dianggap menghalangi pengendara lainnya.

Padahal sepeda itu sedikit saja mengambil ruang jalan. Ruang untuk satu mobil bisa untuk 12 sepeda. Berguna untuk jarak pendek dan merubah wajah kota lebih ramah, karena tak ada waktu untuk marah-marah. Tubuh, pikiran dan emosi tercurah dan kompak demi menghasilkan kayuhan ideal.

Memiliki sepeda bisa jadi tak harus memiliki, dunia sudah memperkenalkan model bike share atau sewa sepeda yang terintegrasi dengan sarana angkutan umum. Sewa sepeda, atau ada juga yang menyebutnya public bike, merupakan sistem sewa sepeda murah yang memiliki jaringan stasiun/pangkalan di suatu kota. Kota Hangzhou, Cina dan kota-kota di Eropa sudah sukses mempopulerkan sewa sepeda yang tren-nya segera menyebar cepat ke kota-kota besar dunia khususnya di Amerika Serikat. Sejak 2010, sistem ini sudah diterapkan di Washington DC, New York, dan Denver.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa pembangunan infrastruktur haruslah berpihak pada manusia sebagai pengambil manfaat, demikian juga tentang penghargaan dan kenyamanan sebuah kota. Semakin padat kota, semakin tinggi angka kendaraan bermotor yang berbanding lurus dengan meningkatnya polusi udara yang jelas menimbulkan masalah – masalah kesehatan dan lingkungan. Sadarlah bahwa itu semua sebuah keniscayaan.

Masih ragu untuk ber-sepeda ?…ah sudahlah, saya tak memaksa pembaca mengikuti anjuran melupakan kemacetan. Siapa juga saya, cuma pesepeda rutin Cimahpar-Taman Kencana-Bubulak dan kembali ke Cimahpar.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.