Yang Luput dari Mencintai Kota


Sebagai pengagum keheningan pagi dan kegaduhan senja, bisa menikmati Bogor itu semacam mencari kemewahan. Mengejar kesempatan menjumput udara kota yang menurut hasil pengujian analisa udara ambien tahun lalu dinyatakan masih dibawah baku mutu. Artinya, kualitas udara berada pada status baik.

Sesekali secara sengaja, ketika curah hujan sedang ramah, sayapun memaksakan diri bermain didalamnya. Tak lazim memang, tapi ini cara egois saya mencintai Bogor dengan segenap daya yang bisa dilakukan. Toh pada kenyataannya saya bertetangga dan berelasi intens dengan mereka yang beraktivitas di Bogor.

Pernah bangga menyaksikan kejayaan PSB Bogor di Stadion Pajajaran dan Persikabo dipentas Liga Utama Sepak Bola. Bangga melihat produktifnya eksplorasi segelintir seniman-budayawan di selasar tugu kujang, taman kencana maupun helaran di Sindangbarang. Bahkan tetap bangga saat mengalami masa-masa Bogor tanpa Wakil Walikota.

Mengalami masa perbaikan transportasi publik, ketika 3 Juni 2007 Bus rapid transit melayani rute Bubulak-Baranangsiang dengan tarif Rp. 1500. Bus yang singgah di 16 halte itu menjadi perhatian nasional berkat dominasi media yang mengabarkan penggunaan bahan bakar biodiesel. Bus yang disepadankan dengan Trans Jakarta itu kini melayani hingga Ciawi dan Bellanova, Sentul City. Rencana sebagai pengurai kemacetan dan mengurangi jumlah angkutan kota (angkot) memang terlihat seperti sebatas harapan. Tapi meski layanannya kini minim kebanggaan, saya masih setia menggunakannya. Sama halnya dengan menunggu bus wisata yang katanya akan membelah kota. Entah kenapa meski banyak keluh kesah, masa itu rasanya germbira saja berbelanja di pasar Jambu Dua.

Mencintai Bogor idealnya tak hanya menggunggah status bising soal kerusakan jalan, buruknya fasilitas umum, kemacetan, kekecewaan layanan publik atau hujatan kepada penyelenggara kota. Jika layanan publik kurang baik, mari pertanyakan diri kita, apakah kita sudah memanfaatkannya lebih baik ?. Sudahkan kita menjadi contoh konkrit bagi warga lainnya ?.

Mungkin tidak perlu cara luar biasa, cukup dengan menahan diri ketika berkendara dan berhenti diluar batas marka ketika traffic light menyala merah. Melanggar marka sama dengan melanggar rambu. Kalau dalam UU no.22 tahun 2009 termasuk melanggar Pasal 287 ayat 1 juncto Pasal 106 ayat 4 huruf a dan b. Sama halnya sadar untuk tidak mengambil hak orang lain diruang publik. Tidak parkir kendaraan di trotoar, apalagi melintasi dengan kendaraan demi berbalik arah.

Banyak cara mereka menunjukkan kecintaan kepada kotanya. Fasilitas layanan kota memang tak sempurna, tapi kita masih bisa mengupayakannya. Kota Bogor saat ini memang memiliki puluhan bank sampah di berbagai wilayah, tempat pembuangan sementara (TPS) sampah 3R, dan sejumlah teknik penanganan sampah. Tapi jangan lupa kita punya lubang resapan biopori sejak 2007 yang bisa diterapkan secara mandiri.

Wayang bambu, alat musik bambu, sepeda bambu mungkin kecil perannya untuk kalahkan Paris, tapi setidaknya penggiatnya bangga dengan produknya yang berlabel Bogor. Sama halnya dengan dua anak muda Bogor yang berhimpun di Tokyolite, diam-diam punya agenda tampil di Kansai Music Conference, Osaka, Jepang, September 2016 mendatang.

Lalu, apa yang sudah saya lakukan ? ah…saya bukan siapa-siapa. Cuma bisa menulis status bersepeda dan meluangkan waktu mulung sampah bersama KPC tiap Sabtu, itu pun tak tentu. Apakah saya cinta Bogor ?, entahlah… yang pasti saya jatuh cinta di Bogor..#eh<

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.