Diniatkan Konservasi, Robusta Cibulao Diganjar Kopi Spesialiti Terbaik Tahun Ini


Jumpono, buruh kebun dari kampung Cibulao di kawasan Puncak-Bogor sungguh tak menyangka, biji kopi hasil kerja keras kelompoknya disebut sebagai robusta terbaik dan meraih peringkat pertama dalam Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) di Takengon Aceh. Robusta hasil tanaman Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao Hijau itu sukses memikat 12 master cupper international dari Brazil, Jerman, Belanda, Jepang dan USA. Robusta Cibulao dari Kampung Cibulao, Dea Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor – Jawa Barat terpilih terbaik dari 65 peserta lainnya.

“Assalamualaikum…mbak, Alhamdulillah Juara 1. Makasih banyak ya mbak atas pendampingan dan bimbingannya”. Malam itu juga, ditengah meluapnya rasa bangga dan euforia juara KKSI 8 dalam hajatan Gayo Highland Sumatera Coffe Festival, 21-23 Oktober 2016. Jumpono merilis pesan yang ditujukan kepada Putri, salah satu anggota Konsorsium Penyelamatan Puncak. Kolaborasi lembaga dan individu di Bogor yang dalam 2 tahun terakhir bergerak berdampingan bersama KTH.

Tiga tahun lalu barangkali tak ada yang meyakini sebuah kampung bernama Cibulao mampu memproduksi biji kopi dengan citarasa khas. Bisa jadi hal itu masih berlaku untuk kaum awam yang terbiasa kopi guntingan, bukan gilingan. Apalagi profil kampung Cibulao sebagai satu dari ratusan kampung di kawasan Puncak, Bogor, tepatnya di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua. Umumnya adalah buruh pemetik dan pengupas teh untuk PT SSBP atau yang lebih dikenal dengan Perkebunan Teh Ciliwung. Komoditi kopi baru dikenal seiring hadirnya Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao Hijau yang mendapatkan kerjasama dengan Perhutani mengelola lahan seluas 5 Ha.

Sama halnya ketidaktahuan publik bahwa Bogor sesungguhnya pernah dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik dunia sejak 1723. Kopi cukup laku keras dipasaran dunia kala itu. Terbukti ketika Daendels menghadapi keadaan kas negara yang kosong sedangkan hubungan luar negeri Belanda terputus perang Inggris dengan Perancis. Pemerintah Hindia Belanda masih tertolong hasil pendapatan kopi Jawa Barat yang laku keras di Meksiko. Sejarah juga mencatat bagaimana Politik dan sistem pemerintahan Belanda di Jawa Barat selalu diasosiasikan dengan kepentingan kopi. Sampai akhirnya hama karat daun menghancurkan legenda kopi Bogor pada tahun 1876.

Yono dan Jumpono, adalah duo saudara yang menghidupkan kembali riwayat komoditi kopi Bogor mulai 2009. Jika Belanda berlatar belakang politik dan motif ekonomi, bagi Yono dan KTH Cibulao Hijau tanaman kopi merupakan alat upaya konservasi kawasan hutan di kampungnya. Perkenalan dengan Konsorsium Penyelamatan Puncak tahun 2014 lalu menandai langkah awal mereka serius menggarap kopi sebagai komoditi. Melirik citarasa sebagai pilihan begitu Rumah Kopi Ranin ikut terlibat membina dan menampung produksi mereka, hingga perjumpaan KTH dengan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bogor, Agustus2016 lalu.

Perlu proses hingga 2-3 tahun agar kopi Cibulao mendapat tempat layaknya komoditi yang diperhitungkan. Setelah sebelumnya robusta Cibulao telah tersaji dan menjadi favorit pengunjung di Rumah Kopi Ranin sejak 2015 lalu.

“Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan YME. Kaget campur bahagia, nggak nyangka kopi hasil kebun KTH dapat podium 1 nasional. Semoga menjadi berkah dan memotivasi teman-teman petani kopi KTH Cibulao HIjau, agar lebih giat lagi dan mau bekerja keras dalam kegiatan penghijauan dan peduli kelestarian hutan,” ungkap Yono.

Perjumpaan Kopi Cibulao dengan Gayo Highland Sumatera Coffe Festival bermula dari didaftarkannya ke Kontes Kopi Spesialti Indonesia (KKSI) 2016 oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor. Sampel kopi yang dikirim Dinas Pertanian dan Kehutanan ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PPKKI) Jember, Jawa Timur. Hasilnya robusta Cibulao terpilih dengan predikat Tenderable oleh tim Taman Delta Indonesia (TDI), status yang membuatnya layak masuk sebagai peserta final kontes di Aceh. Jumpono, ketua dari Kelompok Tani Hutan hadir langsung dan menerima penghargaan tersebut.

Sebelumnya Dr. Priyono, peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia (PPBBI) turut memproses hasil panen petani Cibulao dengan metode Ciragi, yaitu starter fermentasi untuk menghasilkan kopi dengan citarasa tinggi. Hasil proses tersebut kemudian disampaikan kepada Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor untuk diikutsertakan dalam KKSI 2016. Sejak ditemukan tahun 2014, Ciragi telah mengantarkan menjadi juara dalam Kontes Kopi Spesialti Indonesia yg disenggarakan oleh AEKI. Bahkan tahun 2015 juara 1 kategori kopi Arabika dan Robusta dimenangkan oleh kopi Manggarai Timur yang keduanya menggunakan Ciragi saat pengolahan greenbean.

“Tahun 2016, juara 1 kopi Robusta kembali dimenangkan oleh kopi yang difermentasi menggunakan Ciragi, untuk kopi Arabika menunduki juara 2. Alhamdulillah walaupun saya belum kenal Mas Jumpono selamat atas prestasi juara 1 kopi Robusta,” terang Dr. Priyono yang kini menjabat Direktur PBBI.

Menanggapi kemenangan ini, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bogor Siti Nurianty menyampaikan, bahwa ini adalah buah kerja bersama untuk meningkatkan nilai tambah produk petani yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan petani. “Mereka adalah petani yang memanfaatkan lahan Perhutani, mereka merupakan kelompok pelestari lingkungan hutan yang sudah memproduksi kopi dan memasok Rumah Kopi Ranin. Dinas Pertanian turut mendukung dan membantu mempersiapkan mereka mengikuti lomba ini,” terang Siti Nurianty.

KKSI merupakan hajatan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) sejak 2008 yang dimaksudkan untuk inventarisasi karakteristik mutu fisik dan citarasa kopi spesialti dari seluruh Indonesia. Kompetisi ini merupakan salah satu upaya memilih kopi spesialti dari seluruh Indonesia hasil panen pada tahun yang sama dengan pelaksanaan kontes kopi. Kompetisi untuk mencari kopi biji arabika dan robusta mutu fisik dan citarasa terbaik, didasarkan pada Standar Mutu Fisik SNI 01-2907-2008 dan Tergolong Mutu -1 hasil panen kopi tahun 2016. Kompetisi ini diikuti oleh petani atau kelompok tani, eksportir kopi, pedagang kopi, coffeshop, perusahaan perkebunan, dinas perkebunan, lembaga penelitian dan pelaku usaha kopi.

Keberhasilan Kopi Robusta Cibolao tak lepas dari kegigihan petani KTH Cibulao Hijau dikawasan setinggi 1450 m dpl menjalankan kerjasama mengolah lahan perhutani seluas 5 Ha sejak 2009. Menanam kopi bagi Jumpono, Yono dan teman-temanya dilatar belakangi  hutan alam di pinggir kampung Cibulao yang mulai habis. Setiap hari mereka melihat ada saja pohon yang ditebang. Jika semua pohon habis ditebang, tentu kehidupan mereka yang tinggal di pinggir hutan akan juga terancam. Hutan adalah rumah besar bagi warga Cibulao, tanpa hutan tidak ada rumah besar yang akan melindungi mereka.

Petani KTH bukanlah pengusaha kopi yang bermimpi ekspansi dengan tanaman monokultur. Menanam kopi ditujukan untuk pagar alami bagi pokok-pokok pohon besar di kawasan hutan kampung Cibulao. Terbukti setelah kebun kopi berbentuk, sulit buat orang menebang pohon melalui kebunnya. Pada celah bukit yang ditanami kopi itu telah menjadikan hutan kembali berfungsi sebagai kawasan resapan air (water catchment area).

Siapa sangka, pilihan menanam kopi di hutan Cibulao justru memberikan naungan aneka pohon besar yang menimbulkan citarasa istimewa pada kopi. Keberhasilan Kopi Cibulao di Aceh seolah menegaskan penilaian yang diberikan Rumah Kopi Ranin yang mensejajarkan robusta Cibulao dalam kategori fine robusta, grade citarasa pamuncak dalam kelompok kopi robusta.

“Ini keren, bayangin aja buruh kebun bisa maju ke kontes nasional. Buruh kebun yg menorehkan nama bogor dalam panggung kopi nasional itu kan keren,” jelas Tejo Pramono-pengelola Rumah Kopi Ranin, kedai yang satu tahun terakhir ini tercatat sebagai pembeli konsisten biji kopi Cibulao. Green bean petik merah yang kemudian mereka kolaborasikan prosesnya dan akhirnya menjadi pilihan penggemar kopi di Rumah Kopi Ranin.

Bogor sendiri tercatat pada 2015 memiliki lahan perkebunan kopi cukup luas, hampir 3.000 hektar. Terdiri dari 2.812 hektar kopi robusta dan 143 hektar kopi arabika. Dari total lahan-lahan tersebut, bisa dihasilkan lebih dari 2.400 ton biji kopi. Terdiri dari 2.328 ton kopi robusta dan 121,86 ton kopi arabika.

Konsorsium Penyelamatan Puncak sejak dua tahun lalu telah bekerja bersama warga Cibulao dengan gerakan penyelamatan ekosistem hulu Ciliwung. Pengembangan dan pembinaan kopi menjadi salah satu capaian kegiatan bidang ekonomi selain gerakan memungut dan membersihkan gunung sampah di kawasan Puncak.

Ernan Rustiandi, koordinator Konsorsium Penyelamatan Puncak dalam sebuah kesempatan membeberkan bahwa kopi yang dihasilkan di Cibulao bukan sekedar komoditas, dibalik itu ada upaya dari masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan. Kedepan, cita cita konsorsium savepuncak dan KTH bisa menjual kopi dengan muatan kampanye. Tidak hanya membeli kopi tapi turut berkontribusi dalam melestarikan hutan.

Artikel serupa lihat disini

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.