Salah Kaprah Biopori


Bertemu sosok seorang Kamir R. Brata ternyata tak sesulit yang dibayangkan sebelumnya. Di sela-sela kesibukan menghadiri berbagai acara dan kemasan kegiatan Lubang Resapan Biopori (LRB), beliau tetap antusias menerima saya yang saat itu menjadi representasi Majalah Hayu Bogor di rumahnya. Raut wajahnya tak mampu menyembunyikan spirit berbagi ilmu biopori yang ditekuninya sejak 1993 itu. Pengajar Ilmu Tanah IPB yang sudah purna tugas itu menolak wawancara tanya jawab layaknya narasumber, lebih pas kami menyebutnya sebagai diskusi. Ya diskusi biopori di beranda rumahnya yang asri di Cibanteng, sekitar 800 meter dari kampus IPB Dramaga.
Kami mengawalinya dengan berkeliling halaman rumah, memperhatikan 40 lebih LRB yang ada sekitar rumahnya. Lubang itu tersusun rapih di dasar alur air yang dibuat untuk mengarahkan aliran permukaan masuk ke dalam LRB yg berisi sampah organik. Pada permukaan lahan yang miring alur air dibuat memotong kemiringan sehingga air terjebak masuk ke dalam LRB tidak terbuang menjadi aliran permukaan yang dapat mengikis tanah atau tergenang di permukaan.

“Pada jalan yang miring, alur-alur air kecil ini dibuat sedikit miring ke tepi jalan  untuk mengarahkan air masuk ke dalam LRB yang dibuat di tepi jalan. Dengan cara sederhana ini air tidak mengalir atau menggenang pada badan jalan. Air yang terserap ke dalam LRB di pinggir jalan ini akan menjaga kelembaban tanah di bawah badan jalan, sehingga jalan tidak akan rusak retak karena kering pada musim kering,” jelasnya.

Sudah menjadi niatan Kamir R. Brata (68) untuk mengembangkan teknologi yang sederhana, murah, dan mudah dilakukan oleh setiap orang, tapi punya manfaat ganda yang dapat segera dirasakan manfaatnya bagi yang mau menerapkannya dengan cara yang benar. Teknologi yang kemudian diperkenalkan sebagai teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB). Memanfaatkan aktivitas fauna tanah atau akar tanaman (bio) yang membentuk lubang-lubang terowongan kecil (pore) di dalam tanah. Peran organisme di dalam tanah itulah yang sering dilupakan dalam penerapannya oleh masyarakat.

Kepada Hayu Bogor, Kamir membagi kegelisahan bagaimana kini dirinya harus berkampanye dan meluruskan kembali apa itu Lubang Resapan Biopori yang kini sudah banyak modifikasi dimasyarakat. Sayangnya modifikasi tersebut justru mengganggu proses pembentukan biopori yang hanya bisa dilakukan oleh akar tanaman dan fauna tanah.

Biopori (biopore) merupakan ruangan atau pori dalam tanah yang dibentuk oleh mahluk hidup seperti fauna tanah dan akar tanaman.Biopori berbentuk liang (terowongan kecil), bercabang-cabang yang sangat efektif dapat menyalurkan air dan udara ke dan di dalam tanah. Biopori terbentuk oleh adanya pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman di dalam tanah, serta meningkatnya aktivitas fauna tanah, seperti cacing tanah, rayap, dan semut menggali liang di dalam tanah.  Biopori tidak mungkin dapat dibuat dengan teknologi peralatan secanggih apapun. Biopori akan terus bertambah mengikuti pertumbuhan akar tanaman serta peningkatan populasi dan aktivitas organisme tanah. Populasi dan aktivitas organisme tanah dapat ditingkatkan melalui upaya penambahan bahan organik yang cukup ke dalam tanah. Untuk memudahkan penambahan bahan organik berasal dari sampah organik perlu dibuat lubang vertikal ke dalam tanah, yang dikenal dengan lubang resapan biopori (LRB). Agar tidak menimbulkan pengumpulan sampah organik dan air yang masuk ke dalam lubang terlalu banyak, diameter lubang tidak boleh terlalu besar.

Lubang resapan biopori (LRB) merupakan lubang berbentuk silindris berdiameter 10 cm yang digali ke dalam tanah. Kedalamannya sekitar 100 cm dari permukaan tanah, atau tidak melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi sampah organik sebagai makanan beraneka-ragam organisme tanah (biodiversitas tanah) untuk hidup dan berkembang-biak.  Fauna tanah bekerja menggali liang (biopori) dan mengunyah memperkecil ukuran sampah organik, sehingga dapat membantu mikro-organisme untuk melapukkan sampah organik menjadi kompos. Pembuatan lubang yang relatif kecil ke dalam tanah dapat memperluas permukaan vertikal yang dapat menampung sampah organik dan meresapkan air dalam lubang dengan lancar ke segala arah. Dimensi lubang yang kecil dapat memudahkan proses pembuatannya. Aktivitas biodiversitas tanah dapat mempercepat pelapukan sampah organik serta meningkatkan pembentukan biopori yang dapat memperlancar peresapan air dan pertukaran O2 dan CO2 di dalam tanah.

LRB dapat meningkatkan kemampuan tanah dalam meresapkan air. Air tersebut meresap ke segala arah melalui biopori yang terbentuk menembus permukaan dinding LRB ke dalam tanah di sekitar lubang. Dengan demikian, akan menambah cadangan air dalam tanah serta dapat menghindari terjadinya aliran air di permukaan tanah. Pemasukan sampah organik ke dalam tanah dapat memperbaiki kondisi subsoil untuk membantu pertumbuhan akar lebih dalam, serta meningkatkan penyimpanan C (Carbon sink)

Boleh tahu bagaimana latar belakang temuan Biopori ?

Peningkatan jumlah penduduk serta pesatnya pembangunan pemukiman serta sarana dan prasarana fisik kawasan permukiman telah mengakibatkan berkurangnya ruang terbuka. Hal ini menyebabkan berkurangnya permukaan lahan yang dapat digunakan untuk peresapan air hujan serta tempat pembuangan sampah sementara (TPS) maupun tempat pemrosesan akhir (TPA). Dilain pihak, peningkatan jumlah penduduk juga mengakibatkan peningkatan kebutuhan air untuk berbagai keperluan, dan volume sampah yang dihasilkan. Pembuangan sampah organik yang tercampur dengan sampah non-organik baik di TPS dan TPA dapat menghambat proses pelapukan sampah organik, serta meningkatkan emisi karbon berupa CO2 dan metan yang dapat mengakibatkan efek rumah kaca penyebab terjadinya pemanasan global. Gejala pemanasan global seringkali mengakibatkan perubahan iklim seperti makin tingginya intensitas hujan, munculnya gejala El Nino dan La Nina dengan jumlah hujan yang berkurang dan berlebih. Peningkatan jumlah air hujan yang dibuang karena berkurangnya laju peresapan air ke dalam tanah; akan menyebabkan banjir dan genangan air pada musim hujan, serta kekeringan pada musim kemarau. Banjir dan genangan air diperparah oleh pendangkalan dan penyumbatan saluran drainase akibat pembuangan sampah sembarangan.

Mengingat kebutuhan air yang terus meningkat dan sumber air utama berasal dari curah hujan; perlu diupayakan rekayasa teknologi tepat guna untuk perbaikan lingkungan hidup yang dapat meresapkan air hujan ke dalam tanah dan berguna untuk pemanfaatan sampah organik.  Lubang resapan biopori (LRB) dikembangkan untuk memperbaiki kondisi ekosistem tanah yang dapat menghidupi keanekaragaman hayati di dalam tanah (biodiversitas tanah). Biodiversitas tanah dapat hidup dan berkembang biak di dalam tanah bila terdapat cukup air, oksigen, dan makanan sebagai sumber energi dan nutrisi untuk hidup dan perkembang-biakannya. Karena mereka umumnya heterotroph maka makanannya adalah bahan organik yang dihasilkan oleh autotroph dan organisme tanah yang telah mati.  Sampah organik merupakan sumber bahan organik untuk makanan biodiversitas tanah. Pembuatan lubang yang relatif kecil ke dalam tanah dapat memperluas permukaan vertikal yang dapat menampung sampah organik dan meresapkan air dalam lubang dengan lancar ke segala arah. Dimensi lubang yang kecil dapat memudahkan proses pembuatannya pada berbagai tipe penggunaan lahan termasuk yang permukaannya sudah tertutup bahan kedap air. Aktivitas biodiversitas tanah dalam lubang yang terisi sampah organik, dapat mempercepat pelapukan sampah organik dan meningkatkan pembentukan biopori yang dapat memperlancar peresapan air dan pertukaran O2 dan CO2 di dalam tanah (perbaikan aerasi).

Dengan demikian LRB merupakan teknologi tepat guna ramah lingkungan, yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan makin sempitnya ruang terbuka hijau. Dinding lubang LRB memperluas permukaan vertikal yang dapat memperluas permukaan peresapan untuk meningkatkan laju peresapan air ke segala arah di dalam tanah melalui biopori yang terus dibentuk oleh aktivitas fauna tanah. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam LRB terus dimanfaatkan oleh biodiversitas tanah sebagai makanan, sebagian disintesis menjadi senyawa humus yang tersimpan di dalam tanah. Bila setiap rumah tangga dapat memanfaatkan sampah organik ke dalam LRB yang dibuat di kavlingnya masing-masing, akan tersisa sampah non-organik yang dapat mempermudah pemanfaatannya oleh pemulung; berarti dapat mengurangi timbunan sampah yang menambah emisi Carbon (CO2 dan Metan) dan mengotori lingkungan. Bila air hujan dapat diresapkan di setiap kavling, akan dapat dihindari terjadinya limpasan permukaan yang mengakibatkan banjir dan genangan air. Untuk kawasan permukiman di wilayah pantai, peresapan air hujan yang efektif sangat penting untuk menambah cadangan air tanah, serta mencegah terjadinya keamblesan tanah (subsidence), banjir rob dan intrusi air laut.

Bagaimana perkembangan Biopori di Bogor saat ini ?

Gerakan Biopori di Bogor dimulai dengan Apel Relawan Pembuatan Lubang Resapan Biopori yang dipimpin langsung oleh Walikota Bogor, Diani Budiarto, di Lapangan Sempur. Apel tersebut diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Bumi 2007 dan menyongsong Hari Jadi Bogor ke-525 melibatkan semua lapisan masyarakat Kota Bogor. Desember 2007 Gubernur Provinsi DKI memimpin Apel Gerakan Massa Pembuatan Sejuta Lubang Resapan Biopori dan Pengembangan Kampung Biopori di DKI Jakarta. Apel tersebut diselenggarakan di Lapangan GOR Sumantri Brodjonegoro Kuningan, diikuti semua perwakilan masyarakat di wilayah provinsi DKI. Untuk mendorong partisipasi warga DKI, Gubernur DKI mengeluarkan Instruksi Gubernur No. 197 Tahun 2008 tentang Percepatan Pembuatan Lubang Resapan Biopori di Wilayah Provinsi DKI.

Dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 12 Tahun 2009 Tentang Pemanfaatan Air Hujan, pasal 3 disebutkan bahwa setiap penanggung jawab bangunan diwajibkan untuk memanfaatkan air hujan, dengan cara membuat: (a) kolam pengumpul air hujan, (b) sumur resapan, dan/atau (c) lubang resapan biopori.

Sejak itu, melalui Badan Lingkungan Daerah, banyak daerah Kabupaten/Kota, sekolah, perguruan tinggi, dan kelompok masyarakat menyelenggarakan Gerakan Pembuatan Lubang Resapan Biopori. Dukungan terhadap penerapan teknologi LRB terus diberikan, antara lain melalui: Gerakan Sahabat Biopori digagas oleh Bhuvana Nusantara untuk pembuatan LRB di lingkungan sekolah dasar DKI, diluncurkan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri 26 Juni 2010; Gerakan Biopori Indonesia diluncurkan oleh Rekror UI pada 17 Oktober 2010 yang didukung oleh Rektor IPB dan ITB; Gerakan Pembuatan 10 Juta LRB yang diresmikan oleh Panglima TNI pada Hari Jadi TNI 2014.

Tahun 2014, Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto memotivasi kembali warga Kota Bogor dengan Gerakan Sejuta Biopori di Kota Bogor. Dari target Sejuta LRB, dilaporkan tercapai 245 ribu LRB sampai akhir Desember 2014. Beberapa tokoh masyarakat yang telah menerapkan teknologi tepat guna LRB dengan benar, menganggap teknologi domestik yang dikembangkan di Bogor itu memang bermanfaat untuk memanfaatkan air hujan dan sampah organik yang sampai saat ini masih dibuang dan menjadi masalah lingkungan. Untuk mendukung terus berlanjutnya penerapan teknologi LRB di kota Bogor beberapa tokoh masyarakat yang terhimpun dalam Bogor Sahabat (BoBats) merasa perlu untuk mengajak kalangan lebih luas yang mewakili pemerintah, pengusaha, TNI, POLRI, tokoh Agama bertemu dalam forum OBSESI (Obrolan untuk mencari solusi) yang sering diadakan oleh Radar Bogor pada Februari 2015. Pertemuan tersebut menyepakati dilakukannya Gerakan Lima Juta Lubang Biopori dengan menunjuk Hazairin Sitepu sebagai Penamggung-jawab, dan Gatut Susanta sebagai Ketua Pelaksana. Menurut Gatut Susanta sampai saat ini Gerakan Lima Juta Lubang Biopori terus berlanjut untuk melayani permintaan tidak terbatas untuk wilayah Kabupaten dan Kota Bogor, tetapi banyak juga dari daerah lain.

Saat ini banyak modifikasi dan metode Lubang Resapan Biopori, apakah itu sesuai ?

Kunci keberhasilan teknologi LRB adalah terbentuknya biopori oleh aktivitas biodiversitas tanah yang memerlukan sampah organik sebagai makan mereka yang dimasukkan dalam LRB. Dinding lubang LRB merupakan perluasan permukaan tanah yang dapat meresapkan air ke segala arah melalui dinding lubang di mana fauna tanah harus dapat keluar masuk untuk mengambil sampah organik dalam lubang.

Kekeliruan utama yang sering dilakukan adalah memasang potongan pipa paralon dengan alasan untuk memperkuat dinding lubang. Sependek apapun potongan pipa paralon yang dipasang dapat menyumbat pori tanah. Air yang masuk ke dalam LRB akan meresap ke dalam tanah melalui dinding LRB menggantikan udara yang ada dalam pori kosong. Udara yang digantikan harus bisa keluar dan yang terbanyak melalui dinding lubang dekat mulut lubang. Demikian juga aktivitas fauna tanah yang tertinggi adalah di lapisan tanah teratas (top soil). Jadi mulut LRB seharusnya dapat diperkuat dengan adukan semen-pasir setebal dan selebar 3 cm. Yang memperkuat seluruh dinding lubang adalah isi sampah organik. Cairan kental (air lindi) yg keluar saat sampah melapuk dan kapang (fungi) yang hidup merupakan perekat bitiran tanah. LRB harus dibuat di dasar alur air untuk mengarahkan limpasan permukaan masuk ke dalam LRB yg dibuat di dasar alur. Alur air bisa dibuat di sisi jalan, sisi batas lahan/pagar, sekeliling batang pohon, kucuran atap. Pada lahan miring alur air harus dibuat memotong arah kemiringan lahan. Selain untuk mengarahkan limpasan air masuk ke dalam LRB, alur air juga untuk menghindari kemungkinan kaki terperosok. Sampah organik harus ditambahkan sampai mulut lubang untuk menyaring sedimen yang terangkut air limpasan dan menghindari sinar matahari masuk supaya tidak terjadi pertumbuhan lumut yang menyumbat pori dinding LRB; serta mencegah kehilangan air menguap melalui mulut lubang. Jadi bila jumlah sampah organiknya kurang untuk memenuhi lubang, sampah dimasukkan sebagai sumbat permukaan lubang.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.