Membumikan Biopori


Masih hangat dibenak, Februari 2015 lalu Kota Bogor merilis gerakan lima juta lubang biopori yang akan disebar diseluruh pelosok kota. Gerakan ini memang bukan hal baru, nyaris serupa dengan aksi di kota-kota tetangga namun berbeda dalam jumlah. Angka minimal 5 Juta biopori dengan sebuah gerakan masal melibatkan hampir semua lapisan masyarakat di Bogor, menjadi modal membumikan biopori ditempat dimana ia ditemukan.

Sebelumnya pada 2014 dengan anggaran Rp. 200 juta untuk pembelian alat pembuat lubang resapan biopori, Pemerintah Kota Bogor ‘sukses’ mencapai 245.000 lubang dari target 1 juta yang dicanangkan. Saat itu kepada ANTARA wakil walikota Usmar Hariman mengungkapkan tantangan lahan 11.850 hektar di Bogor yang 70 persen sudah tertutup bangunan. Hanya menyisakan 11,5 persen saja untuk ruang terbuka hijau.

Gerakan 5 juta Biopori kemudian diarahkan untuk menyempurnakan pencapaian  target lubang resapan biopori yang pernah dilakukan sebelumnya.

“Kami sudah melaksanakan sejak 23 februari 2015. Sampai hari ini sudah mencapai hampir 4.5 juta. Respon masyarakat luar biasa, terbukti sampai hari ini permintaan masyarakat masih tinggi,” papar Gatut Susanta, Ketua Gerakan 5 juta Biopori.

Adalah Kamir R Brata yang pertama mengenalkan teknologi sederhana ini kepada khalayak. Kota Bogor dimana riset penemuan biopori dilakukan menjadi kota pertama yang melakukannya secara masal 9 tahun lalu, bertepatan peringatan Hari Bumi 22 April 2007, saat itu sebanyak 22.407 lubang biopori dibuat. Konsep ini kemudian diadopsi secara cepat oleh Gubernur DKI Sutiyoso yang kala itu dipusingkan dengan banjir Jakarta. Biopori kemudian populer dan dianggap sebagai teknologi realistis untuk mengurangi banjir.

Padahal pada masa awal teknologi ini dikenalkan banyak pihak yang memandang remeh dan tak serius menanggapinya. Anggapan lubang resapan biopori ini terlalu sederhana membuat orang tak percaya kalau ada gunanya. Sesederhana membuat lubang di dalam tanah kedalaman sekitar 1 meter (itupun tidak harus 1 meter) dengan diameter kurang lebih 10 cm. Sampah organik dimasukkan kedalamnya untuk memancing semut, cacing atau rayap masuk dan membuat biopori berupa terowongan-terowongan kecil sehingga air cepat meresap.

Apa yang dilakukan Kamir tak semata melubangi tanah. Kamir sedang mencontohkan bagaimana mencintai tanah tempat kita berpijak dengan cara nyata, tak semata slogan atau sekedar gerakan tanda pagar kami cinta Bogor di media sosial. Tetapi lebih dari itu, ini bukti memahami dan memaknai karakter kota dengan curah hujan diatas rata-rata antara 3000 sampai 4500 milimeter per tahun. Dibandingkan dengan kawasan pantai utara Jawa Barat yang berada pada kisaran 1000-1500 milimeter per tahun, Bogor memiliki potensi limpahan air hujan yang cukup besar. Ditambah dengan lokasi yang berada diketinggian 190-330 meter diatas permukaan laut, tak salah jika julukan daerah rtesapan begitu melekat.

Prinsip utama lubang resapan biopori adalah air harus ada didalam tanah. Ia menjadi modal awal kehidupan diatasnya. Air untuk tanaman sejatinya harus ada didalam tanah, jika tak segera masuk kedalam dengan cepat akarnya akan busuk.

Penelitian yang dilakukan Kamir mencatat bahwa menurunnya daya serap air menjadi alasan utama kenapa harus ada lubang resapan biopori. Penurunan daya serap ini berdampak air hujan yang melimpah tidak lagi mampu ditampung oleh tanah. Air limpahan hujan itu cenderung untuk terus mengalir ke dataran yang lebih rendah, cenderung dibuang percuma ke Ciliwung dan Cisadane, kalaupun tidak itu akan menjadi genangan yang jika membesar menjadi banjir. Inilah salah satu alasan mengapa air limpasan hujan ke sungai Ciliwung dari Bogor ke kota yang lebih rendah seperti Jakarta meningkat setiap tahunnya. Banjir hanyalah hasil akhir dari ketidakmampuan tanah di Bogor menyimpan air.

Hingga kini sebagian orang masih berharap dan menganggap biopori bisa menjadi solusi banjir, meski tujuan lubang resapan biopori sesungguhnya bukanlah untuk mengatasi banjir. Banjir terjadi karena kekeliruan manusia menangani lingkungan.

“Jadi ini bukan hanya untuk menghindari banjir, tapi justru gunanya bagaimana makhluk hidup yang ada didalam tanah itu tetap bisa kita hidupi. Didalam tanah itu mereka harus hidup, untuk hidup dia perlu makanan, perlu rumah, perlu air yang cukup. Ini menggunakan proses alami dengan akal manusia,” ungkap Kamir.

Popularitas lubang resapan biopori di Indonesia berasa ambigu di wilayah sendiri, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya pada kegiatan pencanangan  sejuta biopori di Sulawesi Selatan menjelaskan, belum banyak daerah yang mewajibkan bangunan disekitarnya memiliki sumur resapan biopori. Bahkan di kota Bogor yang merupakan salah satu tempat resapan air.

Beruntung gelaran ‘Bogorku Bersih’ Mei-Juni lalu mensyaratkan lubang resapan biopori sebagai salah satu kriteria penilaian lomba kebersihan antar RT se kota Bogor. Setidaknya popularitasnya terjaga di kota sendiri sekaligus membenarkan klaim target yang dipaparkan ketua Gerakan 5 juta Biopori.

Ketika daerah lain tak malu-malu memasukan biopori secara ‘resmi’ kedalam produk peraturan mereka, Bogor cukup dengan bergiat mengejar catatan 5 juta lubang biopori. Sebut saja Kota Denpasar, Kabupaten Madiun, Kabupaten Badung, Kabupaten Malang, Kota Tangenrang Selatan, pemprov DKI Jakarta sampai dengan Kabupaten Ende. Kota-kota dan Kabupaten tersebut seperti meneruskan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 12 tahun 2009 tentang Pemanfaatan Air Hujan di wilayahnya masing-masing.

Kabar baiknya ternyata Kabupaten Bogor sudah mewajibkan pemilik lahan yang ingin mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), disyaratkan membuat lubang biopori. Tanpa lubang biopori IMB tidak akan dikeluarkan pemerintah.

Biopori sepantasnya menjadi cara  warga Bogor mencintai kotanya, melakukan hal nyata, sederhana tapi bermakna. Sang pencipta sudah mempercayakan hujan turun lebih sering, rasanya naif jika hanya dibuang percuma. Biopori juga menjadi kesempatan masyarakat mengambil peran bagi upaya pelestarian lingkungan, dengan cara meresapkan air bersih (air hujan) sebanyak-banyaknya ke dalam tanah. Lubang Resapan Biopori dapat diaplikasikan pada lahan sempit dengan fleksibel sekalipun di lokasi yang secara ekstrem dibuat perkerasan 100 persen.

Rasanya lebih lengkap jika ramai-ramai tanda pagar cinta bogor di media sosial, mewujud dengan ramai dan berfungsinya Lubang Resapan Biopori di kota sendiri.

“Giat seperti ini kan wujud cinta kami kepada Bogor sudah tidak diragukan kan ?,” pungkas Gatut.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.