La Nina Belum Pasti Berlalu


Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni. Penggalan akhir puisi manis Sapardi Djoko Damono rasa-rasanya sulit mengandaikan dengan pemaknaan lain selain hujan yang sesungguhnya. Awal Juni lalu BMKG telah merilis informasi peringatan dini cuaca ekstrim yang terjadi di kawasan Jabodetabek, termasuk Bogor. Peringatan yang sama kala hujan angin turun dengan derasnya, disusul kilatan petir yang menyambar dengan keras di awal Ramadhan Senin (6/6) silam. Tiupan angin membuat pohon-pohon di sejumlah ruas jalan bergerak dengan kencangnya. Hujan lebat disertai angin dan petir dilaporkan ANTARA terjadi juga di wilayah Caringin, Ciawi, Cigombong, Cijeruk, Kota Bogor, Tamansari, Tenjolaya, Nanggung, Sukajaya, Cigudeng dan Leuwiliang.

Hujan awal Juni rupanya baru sapaan awal fenomena iklim La Nina, fenomena iklim cukup penting di Indonesia. Jika El Nino menekan curah hujan di Indonesia dan berdampak kemarau panjang, La Nina adalah kebalikannya. Fenomena iklim dimana curah hujan lebih tinggi dibandingkan normalnya, dan itu terjadi di masa seharusnya kemarau tiba. Kalangan kita banyak menyebutnya fenomena kemarau basah.

Catatan BMKG menengarai hujan normal kawasan selatan Jawa Barat, termasuk Bogor kota dan Kabupaten berkisar antara 3000 hingga 4500 milimeter per tahun. Normalnya saja sudah terhitung tinggi jika dibandingkan dengan kawasan pantai utara Jawa Barat yang berada pada kisaran 1000-1500 milimeter per tahun.

Fenomena La Nina sesungguhnya diketahui dari nilai anomali suhu muka laut di perairan Samudra Pasifik. Meski terjadi di Samudera Pasifik, Indonesia tercatat menjadi salah satu penerima dampak yang cukup besar bersama Australia. Satu kondisi dimana suhu muka laut lebih dingin di Samudera Pasifik, sementara di Indonesia lebih hangat. Kondisi tersebut akan mempengaruhi sirkulasi walker atmosfer, yang mendorong pertumbuha awan hujan. Kalau di Pasifik dingin, sirkulasi walker aktif, akibatnya ada penambahan uap air dari Pasifik ke wilayah Indonesia.

Mei-Juni merupakan prakiraan awal musim kemarau 2016. Hujan disertai angin kencang dan petir yang giat menggelegar menjadi pertanda peralihan hujan menuju kemarau. Kehadiran La Nina pada akhirnya memperpanjang transisi musim yang artinya hujan-angin-petir akan rajin hadir sepanjang Juni hingga La Nina pada September nanti.

“Aktifitas petir itu biasanya pada awan konvektif rendah dan menjulang tinggi atau awan Cumulonimbus. Dan itu terjadi biasanya pada saat transisi dari kemarau ke basah atau dari hujan ke kemarau. Tapi sekarang kan fenomenanya ada penyimpangan, sekarang yang seharusnya sudah kemarau tapi masih hujan,” terang Asep Firman Illahi, S.Stat, Pengamat Meteorologi dan. Geofisika di Stasiun Klimatologi Dramaga Bogor.

La Nina dan El Nino merupakan varibilitas iklim, kejadiannya periodik dengan siklus periode tertentu. Sementara perubahan iklim kaitannya dengan konsentrasi gas rumah kaca dengan tren kenaikan suhu secara intens atau terus-menerus. Nyaris tak ada hubungannya memang antara La Nina dengan perubahan iklim, meski variabilitas iklim menjadi salah satu tanda-tanda perubahan iklim. Kenyataannya kehadiran El Nino yang diikuti La Nina menunjukan semakin pendek jarak atau frekuensinya.

Umumnya periode La Nina terjadi dalam rentang tujuh sampai delapan tahun, kini jaraknya lebih pendek antara empat sampai enam tahun. La Nina terakhir diketahui terjadi tahun 2012 atau empat tahun lalu.

Tingginya curah hujan dengan intensitas tertentu sudah jelas menimbulkan ancaman banjir, longsor hingga putting beliung. Saat ini La Nina memang belum begitu kuat, tahapannya dari ringan, moderat dan menuju kuat diprediksi akan terjadi hingga September-Oktober. Mengingat Bogor memiliki topografi berbukit-bukit dan dataran dengan lereng yang termasuk curam, ancaman tersebut sebaiknya diindahkan. Bencana longsor sepanjang 2012 silam terbukti telah menimbulkan kerugaian fisik dan jiwa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten mencatat sedikitnya 3.954 rumah rusak  dan 24 warga meninggal.

Pada curah hujan tinggi wilayah dengan kemiringan curam diatas 150 termasuk kawasan rawan longsor. Curah hujan tinggi dalam waktu yang lama, sekitar 5-6 jam, efektif menyebabkan terjadinya longsor. Meski tak menutup kemungkinan curah hujan ringan-sedang dengan durasinya antara 2 sampai 3 hari juga bisa menyebabkan longsor.

“Misalnya hari ini hujan 120 mm, besok hujan 150 mm, besoknya dihantam lagi 150 mm. Kalau lima hari berturut-turun lama-lama tanah jenuh dan lereng 150 bisa longsor. Tapi meski kemiringan 300 jika terus dihantam dengan hujan 150 mm/hari dalam waktu 3 jam itu juga bisa terjadi longsor juga,” tambah Asep

BMKG sendiri secara rutin telah memberikan informasi dini prakiraan curah hujan dibeberapa titik seperti Sukabumi selatan, Bandung, Pangalengan Bandung Selatan dan Garut yang merupakan daerah perbukitan. Untuk Bogor terutama daerah Ciapus, Ciomas, Babakan Madang sampai dengan Puncak. Kawasan sekitar Suryakencana dan Cijeruk.

Meski BMKG belum dapat memprediksi seberapa besar dampak La Nina, setidaknya institusi negara ini sudah mewanti-wanti agar daerah yang rawan longsor dan banjir segera mempersiapkan diri.

Harus disadari juga hujan memang salah satu pemicu banjir. Namun hujan bukan satusatunya penyebab banjir. Daerah – daerah dengan tingkat serapan air minim akan terkena dampak yang lebih besar. Hal ini terkait dengan intervensi manusia, misalnya pada tata ruang kota yang berdampak air hujan bisa tersimpan di tanah atau tidak.

La Nina dan Kewaspadaan DBD

Selain Banjir, longsor dan puting beliung, tak kalah mengkhawatirkan adalah ancaman kesehatan yang ditimbulkan karena hujan dengan intensitas sering ini, salah satunya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Yang saya cermati pada tahun-tahun La Nina, frekuensi DBD meningkat, baik dari segi serangan jiwa yang terkena maupun luas sebaran kawasan yang terkena,” ungkap Asep

Merujuk pada tahun La Nina sebelumnya, Kasus DBD di Kota Bogor pada tahun 2012 tercatat ada 1011 kasus DBD. Meningkat bila dibandingkan dengan tahun 2011 yang tercatat sebanyak 608 kasus. Tahun 2013 angkanya menurun menjadi 752 kasus. Untuk tahun 2016 sampai dengan April tercatat 585 kasus. Sedangkan Kabupaten Bogor sendiri tahun 2015 lalu tercatat 1453, memasuki 2016 ada peningkatan hingga 40 persen untuk Januari saja.

Perubahan cuaca dan iklim sedikit banyak menggangu aktivitas perekonomian, mengganggu kehidupan manusia secara umum. Tingkat ketahanan pangan dan ketahanan fisik masyarakat sangat bergantung pada kesiapan masyarakat menghadapi fenomena alam ini. BMKG sudah memberi peringatan, selanjutnya bergantung pada publik dan pemerintah serta pemerintah daerah untuk mengendalikan risiko bencana karena akan adanya La Nina.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.