Catatan Kekaguman Seorang Pendatang


Bogor memang bukan kota dimana saya lahir, bukan pula kota dimana saya mengenyam pendidikan formal secara utuh. Bahkan mengenal dan mengunjunginya pun secara tak sengaja. Suatu ketika dalam perjalanan Jakarta menuju Ciawi tahun 2002 terbawa angkot hingga ke kawasan yang orang ramai menandainya dengan nama ‘Merdeka’. Sebuah kawasan yang banyak menyajikan Bogor wajah lama. Sejak itu terpikat dan jatuh cinta-lah saya dengan kota yang memiliki intensitas hujan lebih sering dari kota asal saya.

Ya…saya memang pendatang awam yang terpikat dengan tanah Bogor sebagaimana naturalis asal Inggris Alfred R. Wallace tahun 1861 silam. Memilih Bogor sebagai perhentian setelah penat dengan suasana ibukota, bedanya Alfred memilih berkendara kereta kuda dengan tarif lima gulden untuk setengah hari, saya dengan Kereta Rel Listrik (KRL) Ekonomi bertarif dua ribu rupiah.

Menelusuri Bogor tak ubahnya membuktikan kekaguman Wallace dalam catatan ‘The Malay Archipelago’ (1869) atau kesaksian Michael Mcmillan dalam ‘A Journey to Java’ (1914) dan juga ungkapan kekaguman E. Alexander Powell dalam buku “Where the Strange Trails Go Down” (1921). Bisa jadi hanya sekedar merasakan spirit ”Deep down below us lay a valley of eden,”-nya seorang Scidmore, atau menerawang menembus benak pelukis AAJ Payen (1817) dalam karya-karyanya tentang Bogor.Semua berkisah keindahan Gunung Salak dan bentangan lembah dengan Cisadane yang mengalir di bawahnya. Berkisah kesejukan dengan kualitas udara terbaik yang pernah mereka singgahi. Tentang kota kualitas air terbaik dengan berbagai pusat penelitian dan kegiatan akademis lainnya.

Tanah ini memang ditakdirkan untuk tempat tinggal yang nyaman dan aman. Dari masa-ke masa, waktu ke waktu, orang selalu tertarik untuk berkunjung ke tanah ini. Tak melulu tentang pemandangannya, juga kisah keramahan dan karakter penduduknya yang tersurat dalam Pantun Pacilong sebagai pantun warisan budaya yang teguh didengungkan turun temurun. Penyebutan nama Bogor bersanding dengan kekaguman Baron Van Imhoff (1745). Buitenzorg, demikian sang Gubernur Jendral menyebutnya yang berarti tempat peristirahatan yang damai dan lepas dari keruwetan.

Sebagai kota yang menjadi tujuan untuk tinggal, baik motif politik, pendidikan, ekonomi dan lainnya, Bogor telah dilecut berbagai tantangan besar. Saya katakan tantangan karena perubahan sebagai sebuah kota dengan manusia didalamnya adalah keniscayaan. Satu kondisi yang sama dan terjadi dikota-kota lainnya di Indonesia. Bisa dibayangkan Kota Bogor yang semula dirancang untuk dihuni sekitar 500 ribu orang, kini membengkak lebih dari satu juta jiwa (berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor dalam proyeksi penduduk (angka sementara), bahwa pada tahun 2015 lalu jumlah penduduk diketahui berjumlah 1.047.922 jiwa). Angka ini yang pada akhirnya menimbulkan berbagai tantangan penataan kota seperti ketersediaan lahan dan dampak sosial lainnya.

Dampak yang sejatinya bisa diperkirakan tatkala Thomas Karsten merencanakan pembangunan perumahan di sebelah utara dan timur Bogor pada 1930. Sama halnya ketika Walikota pertama R. Odang Prawiradirdja (1946) menolak Huisvesting 1946 (peraturan Belanda) tentang Bogor kota tertutup dengan alasan keterbatasan lahan dan jumlah orang yang harus diberi tempat tinggal. Walikota Odang menyatakan setiap warga negara Republik Indonesia diterima masuk Kota Bogor dengan tangan terbuka.

Seriring dengan dibukanya hubungan transportasi bus Djakarta dan Bogor sejak 14 Oktober 1946 hingga selesainya pembangunan jalan Pajajaran (1970) dan dioperasikannya akses Tol Jagorawi ke Bogor pada 1979. Menjadi penanda lain terbukanya kota Bogor terhadap akses transportasi yang lebih besar. Lihat saja bagaimana masifnya perkembangan hunian di Kota Bogor sejak dibukanya BORR (Bogor Outer Ring Road) hingga membaiknya berbagai akses dan ruas jalan di Kota Bogor. Tak salah jika pendatang seperti saya semakin banyak yang tertarik untuk tinggal atau sekedar membeli properti untuk investasi.

Demikian halnya ketika Landbouw Hogeschool (Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian) berdiri di Bogor tahun 1940 sampai dengan berdirinya Institut Pertanian Bogor pada 1 September 1963. Bogorpun semakin terbuka sebagai salah satu kota tujuan pendidikan yang harusnya semakin toleran dengan pendatang. Bogor setelah 534 tahun tetap tak melunturkan rasa suka saya dengan kota ini, meski semakin padat dan baru menjadi penduduk tetap pada 2006. Warga kota ini harus bangga dengan kotanya, kebanggaan yang diterjemahkan dan diwujudkan dalam kiprah nyata sebagai warga kota. Pergumulan dengan komunitas didalamnya pada akhirnya memaksa untuk tahu lebih dalam bahwa setiap sudut kota ini kaya cerita, yang buruk kita jadikan pengetahuan, yang baik mari kita teladani…Selamat Hari Jadi Bogor ke 534.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.